PALANGKA RAYA — Jalanan Kota Cantik kini tidak hanya menyimpan risiko kecelakaan dan kriminalitas biasa bagi pengemudi ojek online. Ancaman baru muncul dari balik orderan bernilai tinggi yang ternyata berujung pelecehan terselubung.
Viralnya pengakuan driver ojol lokal Ilham Ramadhan atau dikenal dengan akun @Superdaddy_23 membuka sisi gelap yang selama ini hanya beredar sebagai bisik-bisik di kalangan pekerja lapangan. Modusnya sederhana namun menjebak: pelanggan menawarkan bayaran jauh di atas tarif normal, lalu menggiring korban menuju hotel dengan permintaan yang mengarah pada penyimpangan seksual.
Yang membuat publik tersentak bukan hanya isi percakapan, tetapi fakta bahwa modus seperti ini disebut mulai sering terjadi di Palangka Raya. Bagi sebagian driver yang sedang sepi orderan, nominal Rp150 ribu jelas menggiurkan. Namun di balik angka itu, tersimpan tekanan mental, pelecehan verbal, hingga situasi yang berpotensi membahayakan keselamatan pengemudi.
Kasus ini langsung meledak di media sosial lokal. Kolom komentar dipenuhi kemarahan warga yang menilai para pelaku telah mempermainkan profesi pencari nafkah jalanan demi kepuasan pribadi. Narasi “Palangka Raya darurat boti” pun mulai ramai digunakan warganet sebagai bentuk keresahan atas fenomena yang dianggap semakin terbuka dan nekat.
Di kalangan komunitas ojol sendiri, kasus tersebut memicu solidaritas spontan. Banyak driver mulai saling berbagi ciri akun mencurigakan, lokasi rawan, hingga pola order yang dianggap tidak wajar. Beberapa bahkan menyebut modus “hotel dan tip besar” kini menjadi alarm merah di aplikasi.
Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan wajah ancaman terhadap pekerja digital lapangan. Jika dulu driver lebih waspada terhadap begal atau order fiktif, kini mereka harus menghadapi jebakan psikologis yang menyerang martabat dan rasa aman saat bekerja.
Keberanian Ilham membatalkan order dan mempublikasikan bukti percakapan dianggap menjadi titik balik. Publik mulai melihat bahwa persoalan ini bukan lagi bahan candaan media sosial, melainkan bentuk pelecehan yang nyata terhadap pekerja sektor informal.(red)