Palangka Raya – Aktivitas arisan yang selama ini lekat dengan kehidupan sosial masyarakat Puntun, Kelurahan Pahandut, Kota Palangka Raya, dikembangkan menjadi media pembelajaran pengelolaan keuangan dan penguatan pola pikir wirausaha.
Gagasan tersebut muncul dari penelitian tim Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya (UPR) melalui kajian berjudul Integrasi Literasi Finansial dalam Pembentukan Pola Pikir Wirausaha Masyarakat Puntun. Penelitian ini menghasilkan Model Literasi Finansial Berbasis Arisan Produktif dan Tutor Sebaya (LF-APTS).
Ketua tim peneliti, Dr. Muhamad Affandi, M.Pd., mengatakan model tersebut dirancang dengan memasukkan materi pengelolaan keuangan ke dalam aktivitas yang sudah akrab dengan masyarakat.
“Model ini dirancang agar pembelajaran pengelolaan keuangan lebih mudah dipahami karena disesuaikan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari,” ujar Affandi, Sabtu (26/9/2026).
Penelitian melibatkan delapan pelaku usaha mikro dan dua informan kunci. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta Focus Group Discussion (FGD).
Dari kajian tersebut, tim menemukan kemampuan literasi finansial pelaku usaha di Puntun masih beragam. Sejumlah warga telah terbiasa memisahkan modal dan keuntungan, sementara sebagian lainnya masih mencampurkan keuangan usaha dengan kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, penelitian melihat adanya modal sosial yang cukup kuat di lingkungan masyarakat Puntun. Arisan, gotong royong, serta keberadaan lembaga pendidikan masyarakat seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan materi literasi finansial.
Dalam model LF-APTS, materi diberikan secara singkat dengan menggunakan contoh yang dekat dengan keseharian pelaku usaha. Salah satunya dengan memisahkan uang modal dan keuntungan menggunakan amplop berbeda agar arus keuangan usaha lebih mudah dipantau.
Model tersebut juga memanfaatkan tutor sebaya, dengan melibatkan pelaku usaha maupun alumni pendidikan masyarakat yang telah memiliki pengalaman dalam mengelola usaha.
“Literasi finansial tidak hanya soal mengatur uang, tapi juga membentuk pola pikir wirausaha yang proaktif, inovatif, dan berani ambil risiko terukur,” jelas Affandi.
Tim peneliti berharap model LF-APTS dapat menjadi salah satu alternatif yang digunakan PKBM, pemerintah daerah, maupun lembaga terkait dalam menjalankan program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pendekatan yang menggabungkan aktivitas sosial dengan pembelajaran keuangan ini diharapkan dapat diterapkan sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.