PALANGKA RAYA – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya terus dikembangkan, terutama untuk menghadapi kebakaran di lahan kering dan gambut. Salah satunya dengan menguji penggunaan dua jenis cairan pembasah, yakni Shabodama dan X-Fire.
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin turun langsung meninjau penggunaan kedua cairan tersebut di kawasan Jalan Manduhara, Jumat (18/9/2026). Peninjauan dilakukan untuk melihat sejauh mana cairan pembasah membantu proses pemadaman di lapangan.
Fairid mengatakan, kondisi lahan yang kering membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan yang tidak hanya berfokus pada api di permukaan. Pada lahan gambut, pembasahan hingga ke lapisan tanah diperlukan untuk mengurangi kemungkinan bara kembali memicu kebakaran.
“Tadi siang saya melakukan pengecekan langsung di lapangan. Berdasarkan situasi dan kondisi saat ini, terutama karena kondisi lahan yang kering, saya ingin melihat efektivitas penggunaan cairan pembasah,” kata Fairid.
Dari hasil pengecekan di lapangan, kedua cairan tersebut dinilai menunjukkan hasil dalam membantu proses pemadaman. Cairan pembasah membuat air lebih mudah meresap ke lapisan gambut sehingga pembasahan dapat menjangkau bagian tanah yang berpotensi masih menyimpan bara.
Penggunaan cairan tersebut juga tengah dihitung dari sisi kebutuhan air dan efektivitas operasional. Hal ini menjadi perhatian karena penanganan kebakaran lahan gambut membutuhkan pembasahan berulang untuk memastikan bara di dalam tanah tidak kembali muncul.
Untuk Shabodama, Pemko Palangka Raya telah berkoordinasi dengan Borneo Nature Foundation (BNF) terkait ketersediaan cairan tersebut dan kebutuhan pendukung apabila penggunaannya diperluas.
Sementara X-Fire mendapat dukungan dari Mabes Polri yang menyatakan kesiapan membantu penanganan karhutla di wilayah Kota Palangka Raya.
“Untuk Shabodama, kami mendapat dukungan dari BNF. Tadi kami juga sudah berkoordinasi dengan BNF terkait ketersediaan dan berbagai hal lainnya. Saat ini kami masih menghitung dan mempertimbangkan mana yang paling efektif dan efisien untuk digunakan. Sementara untuk cairan dari Mabes Polri, mereka siap memberikan dukungan,” jelas Fairid.
Pemko Palangka Raya selanjutnya akan mengevaluasi penggunaan kedua cairan tersebut dengan melihat hasil di lapangan, kebutuhan air, efisiensi operasional, serta ketersediaannya.
Pengujian ini menjadi salah satu upaya yang dilakukan dalam menghadapi karakteristik kebakaran di lahan gambut, terutama untuk membantu petugas menangani titik api yang tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga dapat menyimpan bara di bawah lapisan tanah.