06052024015628_0

PALANGKA RAYA – Angka pengangguran di Kalimantan Tengah masih menunjukkan persoalan yang tidak sederhana. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 58.612 orang masuk dalam kelompok pengangguran di Kalteng pada 2025.

Di balik angka tersebut, lulusan baru atau fresh graduate menjadi salah satu kelompok yang turut menyumbang jumlah pengangguran. Bukan semata karena tidak tersedianya pekerjaan, tetapi karena adanya jeda waktu antara kelulusan dengan masuknya seseorang ke dunia kerja.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalteng Farid Wajdi mengatakan, kondisi tersebut cukup umum terjadi. Lulusan baru tidak selalu langsung memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.

Fresh graduate, karena begitu lulus kan belum tentu langsung bekerja. Misalnya ada seribu orang yang diwisuda, mungkin yang sudah memiliki pekerjaan hanya sekitar seratus orang. Sisanya masih mencari pekerjaan selama satu, dua, bahkan tiga bulan,” ujar Farid, 6 Agustus 2026.

Selama masih aktif mencari pekerjaan, lulusan baru tersebut tetap tercatat sebagai pengangguran berdasarkan indikator ketenagakerjaan. Situasi ini membuat jumlah pengangguran dapat meningkat ketika memasuki periode kelulusan sekolah maupun perguruan tinggi.

Menurut Farid, sebagian besar pengangguran di Kalteng berada pada kelompok usia produktif. Namun, kondisi itu tidak serta-merta menggambarkan minimnya lapangan pekerjaan.

“Sebagian besar sebenarnya sudah terserap di lapangan kerja. Tingkat pengangguran kita relatif kecil karena masih di bawah empat persen,” katanya.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat jumlah pengangguran tertinggi dengan 10.114 orang. Berikutnya Kota Palangka Raya sebanyak 8.175 orang dan Kabupaten Kapuas 7.986 orang.

Jumlah pengangguran di Kotawaringin Barat tercatat 6.546 orang, Barito Utara 4.211 orang, Katingan 4.035 orang, Seruyan 3.180 orang, dan Barito Selatan 2.972 orang.

Sementara itu, Gunung Mas mencatat 2.461 orang, Barito Timur 2.267 orang, Pulang Pisau 1.757 orang, Lamandau 1.771 orang, Sukamara 1.638 orang, dan Murung Raya 1.499 orang.

Persoalannya kemudian bukan hanya berapa banyak lowongan pekerjaan yang tersedia, tetapi seberapa cocok pekerjaan tersebut dengan pencari kerja.

Farid menyebut masih terdapat pencari kerja yang tidak mengambil peluang pekerjaan karena faktor lokasi maupun ketidaksesuaian kompetensi.

“Ada lowongan, tetapi tidak diminati karena lokasinya jauh. Ada juga lowongan yang tersedia tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau kompetensi pencari kerja,” jelasnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya mismatch di pasar tenaga kerja. Di satu sisi perusahaan membutuhkan tenaga dengan keterampilan tertentu, sementara di sisi lain pencari kerja memiliki latar belakang pendidikan dan kompetensi yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Persoalan menjadi lebih kompleks karena karakteristik wilayah Kalteng yang luas. Lowongan pekerjaan yang tersedia di satu daerah belum tentu mudah dijangkau oleh pencari kerja dari daerah lain.

Bagi fresh graduate, tantangannya pun tidak berhenti pada memperoleh ijazah. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka harus kembali berhadapan dengan proses pencarian kerja, persaingan dengan pencari kerja lain, hingga kebutuhan perusahaan terhadap keterampilan yang lebih spesifik.

Disnakertrans Kalteng mendorong pelatihan berbasis kompetensi sebagai salah satu upaya memperkecil jarak antara kemampuan pencari kerja dan kebutuhan dunia usaha. Bursa kerja atau job fair juga terus didorong sebagai ruang pertemuan langsung antara pencari kerja dan perusahaan.

Di sisi lain, koordinasi dengan dunia usaha diperkuat agar informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja dan lowongan yang tersedia dapat lebih mudah diakses masyarakat.

Dengan demikian, persoalan pengangguran di Kalteng tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan pekerjaan. Ada persoalan lain di belakangnya, mulai dari masa transisi lulusan baru, kesesuaian kompetensi, lokasi pekerjaan, hingga akses informasi lowongan.

Angka 58.612 pengangguran pada 2025 akhirnya menjadi gambaran bahwa tantangan pasar kerja Kalteng bukan sekadar menciptakan pekerjaan, tetapi juga mempertemukan orang yang tepat dengan pekerjaan yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *