PALANGKA RAYA – Apa jadinya jika sabun yang dikenal sebagai produk kecantikan justru digunakan untuk memadamkan kebakaran lahan gambut?
Pertanyaan itu tengah dijawab di kawasan hutan Universitas Palangka Raya (UPR). Di lokasi tersebut, peneliti mencoba menggunakan Shabondama Soap, sabun asal Jepang, sebagai campuran air untuk menangani kebakaran gambut yang dikenal sulit dipadamkan.
Bukan sekadar percobaan baru. Ahli ekologi dan pengelolaan lahan gambut UPR, Kitso Kusin, mengatakan penelitian mengenai metode tersebut telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Riset itu bermula pada 2011 setelah pertemuan internasional yang membahas mitigasi kebakaran. Dari pertemuan tersebut, peneliti asal Jepang mencari lokasi dengan persoalan kebakaran gambut yang serius. Kalimantan Tengah kemudian menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk pengembangan penelitian.
Setahun kemudian, penelitian mulai dilakukan bersama peneliti UPR.
“2011 itu hanya bicara-bicara terkait dengan itu, kemudian 2012 memulai penelitian. Kami membuat plot kecil untuk melihat bagaimana penggunaan sabun ini dalam pemadaman,” kata Kitso saat ditemui di kawasan hutan UPR, tepat di belakang Gedung PPIG dan FMIPA, Rabu (2/9/2026).
Pada tahap awal, tim membuat petak percobaan berukuran 10×10 meter. Lahan sengaja dibakar dan dibiarkan selama 24 jam hingga api menjalar ke lapisan gambut.
Tim kemudian membandingkan dua cara pemadaman: menggunakan air biasa dan air yang telah dicampur Shabondama Soap.
Penelitian selanjutnya menggunakan petak yang lebih kecil, berukuran 1,5×1,5 meter, untuk mengetahui seberapa banyak air yang sebenarnya dibutuhkan.
Hasil pengujian menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Untuk memadamkan api pada petak tersebut, air biasa membutuhkan sekitar 19 liter. Sementara dengan campuran sabun, kebutuhan air turun menjadi sekitar 3,7 liter.
Artinya, berdasarkan hasil penelitian tersebut, penggunaan campuran sabun dapat menghemat kebutuhan air lebih dari 80 persen.
“Hasil penelitian kami, di dalam ukuran 1,5×1,5 itu, kalau disiram pakai air memerlukan kurang lebih 19 liter. Tapi dengan menggunakan sabun hanya memerlukan air 3,7 liter,” jelas Kitso.
Riset tidak berhenti pada pengujian awal. Percobaan kembali dilakukan pada 2015 dalam skala kecil, kemudian dikembangkan dalam ukuran yang jauh lebih besar pada 2024 melalui plot berukuran 20×20 meter.
Bagi Kitso, rangkaian penelitian selama bertahun-tahun tersebut menunjukkan metode ini telah melewati sejumlah tahapan pengujian, bukan sekadar percobaan sesaat.
Ketika ditanya apakah teknologi tersebut memungkinkan digunakan dalam penanganan karhutla dalam skala besar, jawabannya singkat.
“Bisa. Bisa dulu, sekarang bisa,” tegasnya.
Namun, ada persoalan lain yang belum selesai: harga.

Shabondama Soap masih harus didatangkan dari Jepang. Kondisi tersebut membuat penggunaan dalam jumlah besar membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terutama jika metode ini akan digunakan secara rutin pada musim kemarau ketika karhutla meningkat.
Karena itu, tim peneliti kini mulai menjajaki kemungkinan produksi di dalam negeri. Salah satu pihak yang ingin dilibatkan adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Kita mau bekerja sama mengundang BRIN supaya itu bisa dibuat pabriknya di sini dan diproduksi di sini. Kalau bisa dibuat di sini nanti harganya akan lebih murah,” ujar Kitso.
Menurutnya, bahan baku untuk membuat sabun tersebut sebenarnya tersedia di Indonesia. Bahkan, produksi di Jepang selama ini masih menggunakan bahan baku yang sebagian didatangkan dari negara lain, termasuk Vietnam dan Thailand.
Jika produksi dalam negeri bisa diwujudkan, persoalan biaya diharapkan dapat ditekan. Dengan begitu, metode yang selama ini diuji di kawasan UPR berpeluang digunakan lebih luas, terutama untuk kebakaran gambut yang membutuhkan air dalam jumlah besar dan sulit dipadamkan hanya dengan penyiraman biasa.
Dari sebuah sabun yang awalnya dibuat untuk kebutuhan kecantikan, kini muncul kemungkinan fungsi lain di tengah persoalan karhutla Kalimantan Tengah: menjadi campuran air untuk menembus dan memadamkan api yang bersembunyi di dalam gambut.
Penelitian di UPR masih terus berjalan. Efektivitasnya telah diuji dalam beberapa skala, sementara tantangan berikutnya justru berada di luar lokasi kebakaran—bagaimana membuat teknologi tersebut lebih murah dan mudah diproduksi di Indonesia.