PALANGKA RAYA – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kondisi asap yang membuat operasi pemadaman melalui udara belum bisa dilakukan secara maksimal.
Hal itu disampaikan Raja Juli saat meninjau langsung lokasi karhutla di kawasan Taman Nasional Sebangau, Jalan Tjilik Riwut Km 23, Palangka Raya, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, sejumlah helikopter untuk operasi water bombing sebenarnya tersedia. Namun, jarak pandang yang terbatas akibat asap membuat penerbangan belum dapat dilakukan secara optimal.
Pemerintah juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang memiliki potensi awan. Sementara berdasarkan prakiraan BMKG, hujan alami di Kalimantan Tengah diperkirakan baru berpeluang turun pada awal November.
“Baru akan ada mungkin nanti di awal November,” kata Raja Juli.
Menghadapi kondisi tersebut, strategi pemadaman di lapangan mulai diarahkan untuk memutus laju pergerakan api, khususnya pada bagian depan api atau kepala api yang menjadi titik penyebaran paling cepat.
“Bukan lagi hanya sekadar memadamkan titik-titik api yang ada, tapi sekarang kita coba memutus kepala api,” ujarnya.
Untuk mendukung strategi tersebut, pemerintah akan menambah sekitar empat hingga lima unit ekskavator untuk membuat sekat dan menghambat pergerakan api. Selain itu, sekitar 30 sumur bor masih disiapkan di sekitar area kepala api.
Pergerakan api juga dipantau menggunakan drone thermal untuk membantu petugas mengetahui titik-titik panas di kawasan gambut.
Namun, ketika ditanya mengenai luasan kawasan Sebangau yang telah terbakar berdasarkan hasil pemetaan, Raja Juli belum memberikan angka pasti.
“Nanti kita hitung lebih precise. Kita akan transparan dan akuntabel,” katanya.
Di tengah penanganan karhutla yang masih berlangsung, pemerintah juga menghadapi kritik dari masyarakat, termasuk melalui media sosial.
Raja Juli mengatakan kritik tersebut tetap menjadi bagian dari evaluasi pemerintah. Ia mengakui bahwa kondisi di lapangan memiliki tantangan yang tidak selalu terlihat dari luar.
“Kita bisa lihat di lapangan tidak mudah, tidak semudah kita membuat caption di media sosial. Tapi kritik itu adalah vitamin, obat untuk memotivasi kami untuk bekerja lebih keras,” ujar Raja Juli.
Ia juga mengakui masyarakat di Kalimantan telah terdampak kabut asap selama sekitar tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang terus ditangani pemerintah bersama unsur terkait.
Di kawasan Sebangau, penanganan kini tidak hanya diarahkan pada titik api yang terlihat, tetapi juga pada upaya mengendalikan pergerakan api di lahan gambut agar tidak terus meluas.