IMG_7827

PALANGKA RAYA-Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Kehutanan terus mendorong penguatan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai langkah nyata dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pengembangan bioekonomi hutan.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Agustan Saining mengatakan pengelolaan kawasan hutan secara produktif menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga kawasan dari ancaman kebakaran sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pada hari ini kami melaksanakan dialog penguatan KPH, baik dalam rangka pengendalian kebakaran hutan dan lahan maupun penguatan bioekonomi hutan oleh masing-masing KPH,”ucapnya saat kegiatan Dialog Kesiapsiagaan KPH Mengantisipasi Kebakaran Hutan melalui Pengembangan Bioekonomi Hutan, Jumat (22/5/2026).

Salah satu contoh pengembangan bioekonomi hutan telah dilakukan di wilayah KPH Kahayan Tengah. Di kawasan tersebut, berbagai komoditas pertanian dan usaha produktif mulai dikembangkan melalui konsep agroforestry, silvopastura, dan silvofishery.

“Di sini ada bawang dayak, jagung, madu kelulut, perikanan hingga peternakan. Jadi kehutanan mendukung pertanian dalam arti luas, baik tanaman pangan, peternakan maupun perikanan,”tambahnya.

Pemanfaatan kawasan hutan melalui kegiatan produktif akan membuat masyarakat memiliki kepedulian lebih besar terhadap kelestarian hutan sehingga risiko terjadinya karhutla dapat ditekan.

“Selain itu berharap kegiatan tersebut menjadi contoh bagi masyarakat untuk memaksimalkan pengelolaan kawasan hutan, baik melalui program perhutanan sosial maupun kelompok tani hutan,” lanjutnya.

Kalau masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari kawasan hutan, tentu mereka juga akan ikut menjaga kawasan tersebut dari kebakaran.

“Selain tanaman pangan, kawasan yang dikelola KPH juga mulai dikembangkan untuk tanaman hortikultura seperti alpukat yang dinilai memiliki nilai ekonomi jangka panjang bagi masyarakat sekitar,” tuturnya.

Pengembangan bioekonomi hutan saat ini telah berjalan di 18 KPH di Kalimantan Tengah dengan luasan yang berbeda-beda. Sebagian masih dalam tahap awal pengelolaan sekitar 10 hektare, sementara KPH Kayan Tengah sudah mengelola lebih dari 200 hektare di beberapa titik lokasi.

“Ada di Desa Pilang, Kilometer 38, dan beberapa titik lainnya. Yang paling luas saat ini berada di KPH Gerbang Barito di Kabupaten Barito Selatan,” jelasnya.

Di KPH Gerbang Barito, pengembangan bioekonomi hutan dilakukan melalui penanaman pinang yang telah mencapai sekitar 200 hektare. Selain itu, kawasan tersebut juga mengembangkan sektor peternakan dengan puluhan ekor sapi.

“Melalui penguatan KPH dan pengembangan bioekonomi hutan, pemerintah berharap upaya pencegahan karhutla dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *