WhatsApp Image 2026-07-27 at 22.13.23

PALANGKA RAYA – Munculnya kabut asap tipis yang mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian berbagai kalangan. Presidium Nasional Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Indonesia (ILMISPI) Wilayah Kalimantan mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat seiring meluasnya musim kemarau.

Presidium Nasional ILMISPI Wilayah Kalimantan, Yosafat Menteng, menilai kondisi yang mulai dirasakan masyarakat tersebut merupakan sinyal awal yang perlu direspons dengan langkah pencegahan. Menurutnya, pengalaman penanganan karhutla di Kalimantan menunjukkan bahwa bencana kabut asap umumnya diawali dari titik-titik api kecil yang tidak segera ditangani.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir Juli 2026 lebih dari 72 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi El Nino yang mulai menguat diperkirakan meningkatkan kekeringan vegetasi sehingga berpotensi memicu munculnya titik panas (hotspot), terutama di kawasan hutan dan lahan gambut.

Selain itu, data pemantauan ekosistem gambut dari Pantau Gambut menunjukkan lebih dari 23.500 titik panas telah terdeteksi di kawasan ekosistem gambut Indonesia sejak awal 2026, dengan sebaran yang cukup signifikan berada di Pulau Kalimantan. Kondisi tersebut dinilai menjadi indikator meningkatnya risiko kebakaran apabila upaya pencegahan tidak dilakukan secara optimal.

Yosafat mengatakan ancaman karhutla tidak hanya berdampak pada rusaknya kawasan hutan, tetapi juga berpotensi menimbulkan bencana kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, perekonomian, transportasi, hingga keseimbangan ekosistem.

Ia mengingatkan kembali peristiwa karhutla pada 2015 yang menyebabkan sekitar 2,6 juta hektare hutan dan lahan terbakar di Indonesia dengan estimasi kerugian ekonomi mencapai sekitar Rp200 triliun. Peristiwa tersebut juga berdampak pada meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terganggunya kegiatan belajar mengajar di berbagai daerah, serta pembatasan aktivitas transportasi akibat pekatnya kabut asap.

Menurut Yosafat, kondisi kabut asap yang mulai terlihat di Palangka Raya harus menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat langkah antisipasi.

“Kabut asap yang mulai menyelimuti Kota Palangka Raya harus menjadi alarm bagi kita semua. Jangan pernah menunggu sampai api membesar baru bergerak. Pencegahan adalah kunci utama agar Kalimantan tidak kembali mengalami bencana ekologis seperti tahun 2015,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan karhutla dengan segera melaporkan apabila menemukan titik api, serta melakukan pemadaman awal apabila kondisi dinilai aman.

Yosafat juga mengimbau masyarakat, khususnya perokok, agar tidak membuang puntung rokok sembarangan di pinggir jalan, semak belukar, lahan kosong maupun kawasan hutan karena berpotensi menjadi pemicu kebakaran pada musim kemarau.

Menurutnya, penanggulangan karhutla memerlukan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, media massa, tokoh adat, tokoh agama hingga masyarakat.

Selain memperkuat patroli dan edukasi, ia juga mendorong pemerintah segera membentuk posko siaga karhutla di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi agar deteksi dini dan penanganan awal dapat dilakukan lebih cepat.

“Pencegahan kebakaran hutan adalah tanggung jawab seluruh elemen. Kalimantan adalah paru-paru bangsa. Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi kewajiban moral seluruh masyarakat. Jangan biarkan kelalaian hari ini berubah menjadi penderitaan jutaan orang di kemudian hari. Mari bersama menjaga Kalimantan dari ancaman karhutla dan kabut asap,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *