Agustiar Bagikan Kisah Hidup kepada Murid Kalteng: Jangan Takut Bermimpi

PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran membagikan cerita tentang masa mudanya saat menyapa para murid melalui Kelas Digital Huma Betang, Rabu (9/9/2026).

Dari Media Center Posko Karhutla di halaman Rumah Jabatan Gubernur, Istana Isen Mulang, Agustiar berkomunikasi dengan para murid menggunakan Interactive Flat Panel (IFP). Dalam kesempatan tersebut, ia meminta siswa memanfaatkan waktu sekolah untuk belajar dan mengejar cita-cita.

Agustiar mengatakan pendidikan dapat menjadi salah satu jalan bagi seseorang untuk mengubah kondisi kehidupannya.

“Pendidikan ini adalah pemutus mata rantai kemiskinan,” kata Agustiar.

Di hadapan para murid, Agustiar kemudian menceritakan pengalaman ketika masih muda. Ia mengaku pernah menjalani kehidupan sederhana dan berusaha memenuhi kebutuhan dengan berbagai pekerjaan, termasuk berjualan kue dan es hingga mencuci piring.

Pengalaman tersebut ia sampaikan untuk menunjukkan bahwa kondisi kehidupan pada masa sekarang tidak harus menentukan masa depan seseorang.

Menurut Agustiar, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan harus dimanfaatkan karena masa sekolah tidak dapat diulang. Ia meminta para murid tetap belajar meski menghadapi berbagai keterbatasan.

“Jadi anak-anakku sekalian, kejarlah ilmu, ya, mumpung kalian ada kesempatan,” pesannya.

Ia juga meminta siswa tidak membatasi cita-cita berdasarkan kondisi yang mereka hadapi saat ini. Menurutnya, proses mencapai cita-cita membutuhkan kemauan, tekad dan kesungguhan untuk terus belajar.

Agustiar menilai pengalaman hidup seseorang dapat berubah seiring dengan proses yang dijalani. Karena itu, ia mengajak para murid untuk berani memiliki cita-cita dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

“Kalau ada niat, ada kemauan, ada tekad, bermimpilah setinggi bintang di langit,” tuturnya.

Pesan tersebut disampaikan Agustiar dalam situasi pembelajaran jarak jauh yang diterapkan sejumlah sekolah di Kalteng akibat kondisi kabut asap karhutla. Meski pembelajaran dilakukan secara daring, ia tetap memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berinteraksi langsung dengan siswa.

Bagi para murid yang mengikuti pertemuan virtual, cerita tersebut tidak hanya berisi ajakan untuk belajar, tetapi juga pengalaman pribadi seorang pemimpin yang pernah menjalani kehidupan sederhana sebelum berada pada posisinya saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *