PALANGKA RAYA – Di tengah hamparan hutan Kalimantan yang masih lebat pada dekade 1950-an, sebuah cita-cita besar mulai diwujudkan. Bukan sekadar membangun sebuah kota, tetapi menghadirkan pusat pemerintahan baru yang kelak menjadi simbol kemajuan masyarakat Dayak dan seluruh rakyat Kalimantan Tengah. Dari tanah yang kala itu masih dikenal sebagai Pahandut, lahirlah Palangka Raya, kota yang sejak awal diproyeksikan menjadi wajah masa depan Kalimantan.
Tonggak sejarah itu dimulai ketika Provinsi Kalimantan Tengah resmi terbentuk sebagai daerah otonom melalui Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957 yang berlaku pada 23 Mei 1957. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Tengah.
Tidak lama berselang, tepat pada 17 Juli 1957, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, datang langsung ke Pahandut untuk meletakkan tiang pertama pembangunan ibu kota provinsi. Peristiwa bersejarah itu ditandai dengan peresmian Monumen atau Tugu Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah yang hingga kini menjadi salah satu simbol lahirnya Palangka Raya.
Monumen tersebut bukan sekadar penanda pembangunan. Setiap bagiannya mengandung filosofi perjuangan bangsa. Angka 17 melambangkan semangat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tugu api menggambarkan semangat yang tidak pernah padam, 17 pilar menjadi simbol kekuatan perjuangan, sedangkan bentuk segi lima menegaskan bahwa pembangunan daerah harus berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1958, nama Pahandut kemudian resmi berubah menjadi Palangka Raya, yang selanjutnya ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.
Perjalanan menuju sebuah kota otonom tentu tidak berlangsung dalam semalam. Berbagai tahapan administrasi terus dilakukan. Pemerintahan dipersiapkan secara bertahap melalui Kecamatan Kahayan Tengah yang saat itu dipimpin J.M. Nahan. Kecamatan tersebut kemudian dipindahkan ke Bukit Rawi untuk memberi ruang bagi persiapan pemerintahan kota.
Momentum penting berikutnya terjadi pada 23 Desember 1959 ketika Tjilik Riwut dilantik sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah. Di bawah kepemimpinannya, pembangunan Palangka Raya semakin dipercepat sebagai pusat pemerintahan dan simbol kemajuan provinsi baru.
Pada 11 Mei 1960 dibentuk Kecamatan Palangka Khusus Persiapan Kotapraja Palangka Raya. Dua tahun kemudian, pemerintahan administratif semakin diperkuat di bawah kepemimpinan W. Coenrad sebagai Kepala Pemerintahan Kotapraja Administratif Palangka Raya.
Seiring berkembangnya wilayah, pemerintah membentuk tiga kecamatan, yakni Kecamatan Palangka di Pahandut, Kecamatan Bukit Batu di Tangkiling, dan Kecamatan Petuk Ketimpun di Marang. Awal 1964, Kecamatan Palangka kembali dimekarkan menjadi Kecamatan Pahandut dan Kecamatan Palangka.
Semua tahapan tersebut menjadi fondasi lahirnya Palangka Raya sebagai daerah otonom. Setelah memenuhi seluruh persyaratan pemerintahan, pemerintah pusat mengesahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 yang menetapkan Kotapraja Palangka Raya sebagai daerah otonom.
Puncak sejarah itu berlangsung pada 17 Juni 1965. Lapangan Bukit Ngalangkang dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan peresmian Kotapraja Palangka Raya. Suasana semakin semarak ketika belasan penerjun payung dari AURI melakukan demonstrasi udara dengan membawa lambang resmi Kotapraja Palangka Raya.
Lambang kota kemudian diarak menuju lapangan upacara sebagai simbol lahirnya pemerintahan yang mandiri. Pada kesempatan itu, Menteri Dalam Negeri menyerahkan lambang Kotapraja kepada Gubernur Tjilik Riwut yang ditunjuk sebagai Penguasa Kotapraja Palangka Raya.
Salah satu momen paling bersejarah dalam upacara tersebut adalah penyerahan Anak Kunci Emas seberat 170 gram oleh Tjilik Riwut melalui Menteri Dalam Negeri kepada Presiden Soekarno. Kunci emas itu menjadi simbol resmi dibukanya gerbang pembangunan Palangka Raya sebagai kota otonom yang siap menatap masa depan.
Kini, lebih dari enam dekade setelah tonggak sejarah tersebut, Palangka Raya telah berkembang menjadi kota modern sekaligus pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Tengah. Jalan-jalan yang dahulu hanya berupa jalur tanah telah berubah menjadi pusat aktivitas pemerintahan, pendidikan, perdagangan, dan jasa.
Di balik pesatnya perkembangan itu, sejarah tetap menjadi fondasi yang tidak boleh dilupakan. Palangka Raya bukan sekadar ibu kota provinsi, tetapi merupakan hasil dari perpaduan visi besar Presiden Soekarno, kepemimpinan Tjilik Riwut, serta perjuangan masyarakat Kalimantan Tengah dalam mewujudkan sebuah kota yang lahir dari semangat persatuan, pembangunan, dan cita-cita Indonesia yang terus menyala hingga hari ini.(red)