PALANGKA RAYA – Dua akademisi Universitas Palangka Raya (UPR), Darmae Nasir dan Henrik Segah, menjadi bagian dari forum terbatas yang digelar Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Keduanya hadir bersama lebih dari 20 akademisi, profesor, dan peneliti dari sejumlah perguruan tinggi serta lembaga riset. Pertemuan tersebut secara khusus membahas persoalan lahan gambut, termasuk upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta peluang pemanfaatan gambut secara produktif.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, pertemuan itu membahas dua persoalan utama, yakni penanganan karhutla dan bagaimana ekosistem gambut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo meminta masukan langsung dari para ahli mengenai langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kebakaran, khususnya di kawasan hutan dan lahan gambut.
“Sebagai ahli tolong saya diberi tahu apa langkah terbaik untuk kita cegah kebakaran di kawasan hutan,” ujar Prabowo.
Selain persoalan kebakaran, Presiden juga meminta pandangan mengenai kemungkinan pemanfaatan lahan gambut untuk kegiatan produktif.
Kehadiran Darmae Nasir dan Henrik Segah membawa perspektif dari Kalimantan Tengah, daerah yang memiliki kawasan gambut luas sekaligus menghadapi persoalan karhutla berulang setiap tahun.
Darmae Nasir tercatat sebagai Wakil Rektor UPR, sementara Henrik Segah merupakan Direktur Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) UPR. Keduanya selama ini berkaitan dengan kajian dan pengembangan ilmu pengetahuan mengenai lahan basah dan gambut.
Forum tersebut juga membahas arah pengelolaan gambut secara lebih luas. Pemerintah memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), yang dirancang berada langsung di bawah Presiden dan melibatkan profesional serta ilmuwan yang memiliki keahlian di bidang gambut dan mangrove.
Keterlibatan dua akademisi UPR dalam pertemuan di Istana menempatkan isu gambut Kalimantan Tengah dalam pembahasan kebijakan di tingkat nasional. Masukan dari para peneliti menjadi bagian dari diskusi pemerintah dalam mencari pendekatan untuk menghadapi karhutla sekaligus menjaga fungsi ekologis gambut.(Red)