IMG-20260415-WA0086

Palangka Raya – Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Faridawaty Dartland Atjeh, memanfaatkan agenda reses perorangan dengan menyasar lingkungan kampus institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya. Dalam pertemuan itu, berbagai persoalan hingga harapan pengembangan institusi mengemuka dari civitas akademika.

Dari pimpinan kampus hingga mahasiswa, aspirasi yang disampaikan tidak jauh dari kebutuhan mendasar mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan sarana prasarana, hingga dukungan terhadap aktivitas akademik dan kemahasiswaan.

Politisi Partai Nasdem ini menyebut, forum reses menjadi jalur langsung untuk menangkap kebutuhan riil dunia pendidikan, yang selama ini kerap tidak sepenuhnya terserap dalam pembahasan formal.
“Reses ini menjadi ruang penting bagi kami untuk mendengar langsung kebutuhan dari dunia pendidikan. Semua aspirasi akan kami catat dan diperjuangkan sesuai kewenangan,” ujarnya, Rabu (15/4/26).

Salah satu poin yang cukup menonjol adalah dorongan peningkatan status IAKN menjadi universitas. Menurutnya, langkah tersebut bukan sekadar wacana, tetapi harus diikuti kesiapan bertahap, terutama pada aspek fasilitas dan dukungan akademik.

Di sisi lain, kebutuhan konkret seperti pembangunan asrama, kantin, area parkir, hingga penguatan laboratorium dan literasi akademik juga menjadi sorotan. Ia menilai, fasilitas bukan hanya pelengkap, melainkan bagian dari fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Fasilitas kampus yang layak adalah bagian penting dari peningkatan kualitas SDM. Ini jadi catatan serius untuk terus didorong dalam pembahasan,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Faridawaty juga menyerahkan bantuan awal berupa perlengkapan penunjang pendidikan, sekaligus membuka ruang kolaborasi melalui program pengembangan kepemimpinan yang melibatkan unsur kampus.

Selain infrastruktur, isu beasiswa, dukungan riset dosen, serta pengembangan seni dan kreativitas mahasiswa turut mengemuka. Menurutnya, pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi juga harus memberi ruang tumbuh bagi potensi non-akademik.

“Pendidikan bukan hanya soal teori, tapi juga ruang kreativitas dan pengembangan bakat. Dukungan terhadap mahasiswa dan tenaga pendidik harus diperkuat,” tutupnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *