PALANGKA RAYA – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah dalam beberapa hari terakhir ternyata tidak sepenuhnya datang secara kebetulan. Di balik guyuran hujan tersebut, terdapat kombinasi antara kondisi atmosfer yang memang sedang mendukung terbentuknya awan hujan dan intervensi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Sugiyono, menjelaskan bahwa secara alami atmosfer Kalimantan Tengah dalam beberapa hari terakhir memang menunjukkan pertumbuhan awan-awan konvektif yang mengandung banyak uap air.
Menurutnya, salah satu pemicunya adalah adanya kondisi konvergensi yang membuat udara berkumpul dan mendorong pertumbuhan awan potensial penghasil hujan.
Namun, keberadaan awan tersebut belum otomatis berarti hujan deras akan turun. Di sinilah OMC mengambil peran.
Sugiyono mengatakan, ketika tim OMC mendeteksi awan konvektif yang potensial, proses penyemaian menggunakan NaCl dilakukan secara lebih cepat atau dipercepat untuk memaksimalkan potensi hujan dari awan tersebut.
“Kalau tidak dilakukan penyemaian NaCl, kemungkinan awan tersebut hanya akan lewat atau menghasilkan hujan ringan saja,” ujar Sugiyono, selasa 27/10/26.
Dengan demikian, hujan yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palangka Raya, merupakan hasil dari pertemuan dua faktor. Pertama, kondisi atmosfer secara alami memang sedang mendukung pembentukan awan hujan. Kedua, OMC berupaya mengoptimalkan awan-awan potensial tersebut agar menghasilkan curah hujan yang lebih maksimal.
Artinya, OMC bukan menciptakan awan hujan dari kondisi langit yang benar-benar kosong. Operasi ini lebih kepada memanfaatkan dan mengoptimalkan awan yang secara alami sudah terbentuk dan memiliki potensi menghasilkan hujan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana teknologi modifikasi cuaca digunakan untuk memanfaatkan momentum atmosfer yang memang sedang mendukung, terutama dalam upaya mempercepat turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.(red)