Screenshot
PALANGKA RAYA — Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Minggu (30/8/2026).
Kali ini dampaknya lebih nyata. Sejumlah penerbangan Super Air Jet tujuan Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang terpaksa dibatalkan setelah kondisi cuaca dinilai tidak memungkinkan untuk mendukung operasional penerbangan.
Sementara penerbangan Citilink dengan tujuan Jakarta dan Surabaya masih menunggu perkembangan kondisi hingga pukul 17.00 WIB. Jika jarak pandang dan kondisi cuaca belum membaik, penerbangan tersebut juga berpotensi batal.
Situasi ini menjadi perkembangan terbaru setelah sehari sebelumnya kabut asap sudah membuat sejumlah penerbangan mengalami gangguan.
General Manager Kantor Cabang PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, I Made Darmawan, mengatakan hasil monitoring selama 1–29 Agustus 2026 mencatat lima observasi jarak pandang berada di bawah 1.000 meter.
Jarak pandang terendah bahkan hanya mencapai 300 meter pada Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.
Dalam periode tersebut, lima movement penerbangan terdampak. Empat nomor penerbangan mengalami keterlambatan dengan total waktu mencapai 290 menit.
Gangguan tidak hanya berupa keterlambatan. Tercatat satu penerbangan mengalami Return to Base (RTB), satu Go Around, satu Holding, satu penerbangan harus menunggu perbaikan kondisi cuaca, serta satu lainnya masih menunggu keberangkatan dari bandar udara asal.
Sehari sebelumnya, I Made menyebut belum ada data pembatalan penerbangan yang secara khusus disebabkan kabut asap.
Namun, kondisi berubah pada Minggu. Kabut asap yang semakin pekat akhirnya berujung pada pembatalan sejumlah penerbangan Super Air Jet.
Menurut I Made, keputusan terkait keberangkatan, pendaratan, holding, maupun RTB berada pada kewenangan penerbang dan operator penerbangan dengan melihat kondisi aktual serta batas keselamatan yang berlaku.
Jarak pandang di bandara juga tidak selalu berada pada kondisi yang sama. Perubahannya dapat berlangsung cepat mengikuti pergerakan kabut asap dan kondisi cuaca.
Ketika jarak pandang turun di bawah batas yang dipersyaratkan, penerbangan bisa mengalami berbagai konsekuensi, mulai dari penundaan hingga pesawat harus berputar, kembali ke bandara asal, atau menunggu kondisi membaik.
“Keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama. Setiap keputusan operasional selalu mempertimbangkan kondisi cuaca dan jarak pandang aktual serta ketentuan keselamatan penerbangan yang berlaku,” tegas I Made.
Bandara Tjilik Riwut kini terus memantau perkembangan cuaca dan jarak pandang. Koordinasi dengan AirNav Indonesia serta maskapai juga diperkuat untuk menyesuaikan operasional dengan kondisi di lapangan.
Bagi penumpang, perubahan situasi dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, informasi mengenai keberangkatan maupun pembatalan penerbangan perlu dipastikan langsung melalui kanal resmi maskapai dan Bandara Tjilik Riwut.
Sementara data terbaru mengenai jarak pandang pada Minggu sore masih menunggu keterangan resmi dari pihak bandara.
Yang jelas, kabut asap kali ini bukan lagi sekadar membuat langit Palangka Raya terlihat kelabu. Dampaknya sudah terasa hingga landasan pacu—dan perjalanan udara dari ibu kota Kalimantan Tengah ikut tersendat.