PALANGKA RAYA — Maulana Adi Saputra (20) masih menjalani pemulihan setelah tubuhnya terbakar saat membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Yos Sudarso XVIII, Palangka Raya, Senin (24/8/2026).
Relawan pemadam kebakaran asal Jalan Tjilik Riwut Km 3,5 itu mengalami luka bakar hingga 75 persen pada bagian tubuh sebelah kanan dan wajah. Cedera tersebut dialaminya ketika berusaha keluar dari lokasi kebakaran setelah arah angin tiba-tiba berubah.
Maulana menceritakan, kejadian bermula sekitar pukul 09.00 WIB ketika tim relawan menerima informasi adanya kebakaran. Saat tiba di lokasi, kobaran api sudah membesar dengan kondisi angin yang cukup kencang.
Karena titik api berada tidak jauh dari permukiman warga, para relawan kemudian masuk ke area lahan gambut untuk memadamkan api yang mendekati rumah penduduk.
Situasi berubah ketika api yang sebelumnya belum menjalar ke bagian belakang lokasi tiba-tiba merembet. Kobaran api menutup jalur yang sebelumnya digunakan para relawan untuk keluar.
Maulana menjadi orang terakhir yang berusaha meninggalkan lokasi.
“Kebetulan saya yang keluar terakhir. Saat saya keluar, badan saya terbakar,” ujar Maulana, Minggu (30/8/2026).
Rekan-rekan Maulana langsung memberikan pertolongan dengan menyiramkan air ke tubuhnya. Ia kemudian dibawa pulang pada malam hari.
Saat itu, kondisi luka bakarnya mulai terlihat jelas. Kulit di sejumlah bagian tubuhnya melepuh dan mengalami luka akibat terkena kobaran api.
Maulana kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya. Ia menjalani perawatan intensif selama dua hari sebelum dokter menyatakan luka bakar yang dialaminya mencapai sekitar 75 persen dari total permukaan tubuh.
Peralatan Terbatas
Dalam proses pemadaman tersebut, sekitar 30 orang berada di lokasi. Selain relawan, terdapat petugas Dinas Kehutanan yang membantu menyuplai air menggunakan mobil tangki.
Namun, menurut Maulana, tidak ada ambulans yang disiagakan di lokasi ketika kejadian berlangsung. Peralatan perlindungan yang digunakan relawan juga terbatas.
Para relawan hanya menggunakan perlengkapan yang tersedia, termasuk tabung oksigen, tanpa perlengkapan khusus untuk menghadapi kobaran api.
Bagi Maulana, kejadian tersebut menjadi pengalaman terparah selama tiga hingga empat tahun dirinya bergabung sebagai relawan pemadam kebakaran.
Biaya pengobatan selama menjalani perawatan sejauh ini masih ditanggung oleh orang tuanya.
Maulana juga mengaku belum menerima bantuan maupun perhatian dari pemerintah setempat setelah mengalami kecelakaan tersebut. Padahal, ia menyebut dirinya tergabung dalam satuan tugas resmi penanganan karhutla.
Di tengah proses pemulihan, Maulana berharap kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah segera berakhir. Ia ingin masyarakat kembali dapat melihat langit tanpa tertutup asap.
“Semoga karhutla ini cepat selesai dan dituntas, dan untuk teman-teman di lapangan, semoga tidak terjadi seperti apa yang saya alami,” pungkasnya.(Red)