WhatsApp Image 2026-08-26 at 11.15.13

Palangka Raya, 25 Agustus 2026 — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam kawasan aset lahan Universitas Palangka Raya (UPR), Kampus Yos Sudarso. Kondisi lahan gambut yang mengering akibat kemarau panjang membuat api cepat berkembang dan sempat mendekati sejumlah fasilitas strategis kampus.

Tim Tanggap Darurat UPR langsung diterjunkan setelah titik api terdeteksi. Pemadaman dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Unit Penunjang Akademik (UPA) Pengelolaan Lahan Gambut, Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG), Peat Techno Park (PTP), Tim Urusan Barang Milik Negara dan Rumah Tangga (BMN-RT), serta relawan dari civitas akademika UPR.

Kepala UPA Pengelola Lahan Gambut sekaligus Koordinator Lapangan Tim Penanggulangan Kebakaran Lahan UPR, Dr. Ir. Adi Jaya, M.Si., Ph.D., mengatakan penanganan dilakukan sejak api pertama terdeteksi untuk mencegah kebakaran meluas ke kawasan kampus.

“Begitu titik api terdeteksi, tim langsung bergerak melakukan pemadaman dan pengamanan di sekitar lokasi. Fokus kami bukan hanya memadamkan api di permukaan, tetapi memastikan tidak ada bara yang masih bertahan di dalam gambut,” ujar Adi Jaya.

Menurutnya, kondisi lahan gambut yang kering membutuhkan penanganan ekstra karena api dapat merambat di bawah permukaan dan kembali muncul setelah beberapa waktu.

“Karena itu, meskipun api sudah terlihat padam, kami tetap melakukan cooling down dan pemantauan secara berkala. Ini penting untuk memastikan tidak ada titik api baru yang muncul,” katanya.

Setelah melalui proses pemadaman, titik api yang sempat mendekati Gedung PPIIG dan Gedung Merah Putih berhasil dikendalikan. Namun, kondisi tersebut belum membuat tim sepenuhnya menghentikan pengawasan.

Lahan gambut memiliki karakteristik berbeda karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Karena itu, tim masih melakukan patroli, pemantauan dan pembasahan atau cooling down secara berkala selama 24 jam untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Di sisi lain, paparan asap juga menjadi perhatian UPR. Berdasarkan kondisi kualitas udara, Rektor UPR Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S., IPU., ASEAN Eng., menetapkan sejumlah penyesuaian kegiatan kampus.

Perkuliahan tatap muka dimulai paling awal pukul 08.00 WIB dengan durasi yang diperpendek serta penyesuaian kegiatan praktikum dan laboratorium. Aktivitas tatap muka di Gedung Kuliah Terpadu Merah Putih A dan B juga ditiadakan pada 19–28 Agustus 2026 dan dialihkan ke pembelajaran daring atau ruang kuliah fakultas yang dinilai aman.

UPR juga membatasi kegiatan di luar ruangan dan mengimbau seluruh civitas akademika menggunakan masker selama berada di lingkungan kampus. Jika kualitas udara memburuk, kampus telah menyiapkan opsi pelaksanaan perkuliahan secara daring penuh.

Untuk mencegah karhutla kembali terjadi, UPR memperkuat sistem kesiapsiagaan dengan meningkatkan patroli dan pemantauan titik panas, terutama di kawasan gambut. Infrastruktur pembasahan seperti tandon air, suplai air dan pompa jinjing juga disiapkan di sejumlah titik strategis.

Koordinasi lintas unit internal UPR turut diperkuat, termasuk dengan BPBD, unsur pemadam kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni dan pihak terkait lainnya.

Pimpinan UPR menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel tim tanggap darurat, dosen, tenaga kependidikan, relawan mahasiswa, petugas keamanan, aparat TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, jajaran bank mitra UPR serta masyarakat yang turut membantu penanganan karhutla di kawasan kampus.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, UPR menempatkan kewaspadaan terhadap karhutla sebagai prioritas. Pemantauan kawasan gambut dan kesiapan personel terus dilakukan agar api tidak kembali mengancam fasilitas maupun aktivitas akademik di lingkungan kampus.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *