BANJARMASIN – Perhatian pemerintah terhadap para personel yang terlibat dalam misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus mengalir. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menjenguk lima kru helikopter Mi-17V5 yang selamat dari kecelakaan saat menjalankan tugas pemadaman karhutla.
Kunjungan tersebut dilakukan di Rumah Sakit TNI AD Tingkat III Dr. R. Soeharsono, Banjarmasin, Jumat (6/11/26). Dalam kesempatan itu, Menhut melihat langsung kondisi para korban sekaligus memberikan dukungan moril kepada kru yang masih menjalani perawatan medis.
Lima kru yang selamat masing-masing Kapten Korps Penerbangan Febri, Kapten Korps Penerbangan Sugand, Letnan Dua Korps Penerbangan Fercis, Prajurit Satu Gilang, dan Sersan Kepala Kadiya.
Menhut Raja Juli Antoni menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan keberanian para kru yang telah menjalankan misi kemanusiaan dalam penanganan karhutla. Ia juga berharap seluruh korban segera pulih dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga.
“Keselamatan dan pemulihan para kru menjadi perhatian utama. Mereka telah menjalankan tugas penting dalam upaya penanganan karhutla, dan negara harus memberikan perhatian terhadap kondisi mereka,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut.
Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa kondisi kelima korban mulai menunjukkan perkembangan positif. Hasil pemeriksaan medis, termasuk pemeriksaan darah dan rontgen, tidak menunjukkan adanya patah tulang. Meski demikian, pemantauan dan perawatan lanjutan tetap diperlukan.
Insiden helikopter Mi-17V5 terjadi pada Rabu (4/11/2026) di perairan Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan. Helikopter tersebut sebelumnya bertolak dari Kuala Pembuang untuk menjalankan misi pengambilan air guna mendukung pemadaman karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam. Tiga kru dilaporkan gugur dalam menjalankan tugas, sementara lima lainnya berhasil selamat.
Peristiwa tersebut kembali mengingatkan bahwa operasi penanganan karhutla bukan pekerjaan tanpa risiko. Di balik upaya melindungi hutan dan masyarakat, terdapat personel yang harus berhadapan langsung dengan bahaya, bahkan mempertaruhkan nyawa.
Pengabdian mereka tidak berhenti pada keberhasilan sebuah misi. Ada keluarga yang menunggu kepulangan, ada perjuangan untuk pulih, dan ada tanggung jawab negara untuk memastikan para pejuang di garis depan mendapatkan perhatian yang layak.(red)