ChatGPT Image Jul 13, 2026, 02_11_02 PM

Palangka Raya – Pengamat ekonomi asal Kalimantan Tengah, Rio Kriswana, memberikan tanggapan terhadap laporan kinerja PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Tahun Buku 2025. Menurutnya, penyampaian informasi yang terbuka dan mudah dipahami menjadi bagian penting agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai perkembangan pengelolaan aset perkebunan yang dipercayakan pemerintah kepada perusahaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Rio pada Senin (13/7/2026), menyusul publikasi laporan kinerja perusahaan yang mencatat surplus operasional pengelolaan perkebunan sebesar Rp2,86 triliun, sementara laba bersih tercatat Rp27,9 miliar.

Rio menjelaskan bahwa kedua angka tersebut memiliki pengertian yang berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung. Surplus operasional, kata dia, merupakan hasil pengelolaan aset negara dalam rangka penugasan pemerintah, sedangkan laba bersih merupakan hasil akhir kegiatan usaha perusahaan setelah dikurangi berbagai beban, seperti biaya operasional, penyusutan, pajak, dan komponen akuntansi lainnya.

“Surplus operasional dan laba bersih merupakan dua indikator yang berbeda. Karena itu, keduanya perlu dipahami sesuai fungsi dan mekanisme pencatatannya agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru,” ujar Rio.

Menurutnya, penjelasan mengenai posisi surplus operasional dalam laporan keuangan perlu disampaikan secara lebih rinci agar publik memahami apakah nilai tersebut merupakan penerimaan bruto, dana yang masih dikelola untuk negara, atau telah menjadi bagian dari pendapatan perusahaan.

“Keterbukaan informasi akan membantu masyarakat memahami bagaimana surplus tersebut dicatat dalam laporan keuangan, apakah masih menjadi bagian dari pengelolaan aset negara atau sudah menjadi pendapatan perusahaan,” katanya.

Selain itu, Rio juga mencermati capaian kinerja keuangan Agrinas Palma selama 2025. Berdasarkan laporan perusahaan, pendapatan usaha tercatat sebesar Rp173,35 miliar atau menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp240,53 miliar. Di sisi lain, laba tahun berjalan meningkat menjadi Rp27,88 miliar dengan margin laba bersih sekitar 16,08 persen.

Ia menilai capaian tersebut menunjukkan adanya efisiensi dalam pengelolaan operasional perusahaan. Namun demikian, kontribusi sektor perkebunan dinilai masih belum sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan karena proses konsolidasi aset masih berlangsung.

Terkait pengelolaan lahan seluas 4,11 juta hektare, Rio berpendapat penyampaian informasi mengenai status serah terima aset, luas lahan produktif, serta aset yang telah menghasilkan pendapatan perlu dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan di lapangan.

“Data mengenai luas lahan perlu disampaikan secara bertahap sesuai proses konsolidasi. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami perkembangan pengelolaan aset secara proporsional dan tidak hanya melihat angka secara keseluruhan,” ungkapnya.

Rio menambahkan, penguatan transparansi, efisiensi operasional, percepatan hilirisasi produk perkebunan, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik menjadi faktor yang dapat mendukung optimalisasi pengelolaan aset pada masa mendatang.

“Tahun 2025 merupakan fase konsolidasi. Pengelolaan yang profesional dan transparan akan menjadi fondasi agar aset strategis tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih optimal, baik bagi perusahaan maupun bagi negara,” tutup Rio.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *