WhatsApp Image 2026-06-22 at 17.54.57

PALANGKA RAYA – Polemik yang bermula dari ulasan produk Bika Ambon di media sosial dan berujung pada perseteruan antara Zhezee Galuh dan Ius Eka Praptani Asi akhirnya menempuh jalur penyelesaian adat.

Zhezee Galuh menghadiri forum mediasi sekaligus edukasi Belom Bahadat yang digelar Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Palangka Raya melalui Kedamangan Pahandut, Senin (22/6/2026). Dalam forum yang dipimpin langsung oleh Damang Pahandut William SE tersebut, Zhezee dimintai keterangan serta klarifikasi terkait persoalan yang sempat menjadi perhatian publik di Kalimantan Tengah hingga tingkat nasional.

Perselisihan itu bermula dari unggahan review Bika Ambon Ci Mehong yang kemudian memicu beragam tanggapan warganet. Situasi berkembang setelah muncul saling respons antara Zhezee Galuh dan Ius Eka Praptani Asi di media sosial hingga akhirnya persoalan tersebut dilaporkan ke lembaga adat untuk difasilitasi penyelesaiannya.

Forum mediasi turut dihadiri Asosiasi Bawi Dayak, Budaya, dan Wisata Kalimantan Tengah (Asbadata-Kalteng) sebagai bagian dari upaya membangun ruang dialog dan penyelesaian yang mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.

Di hadapan forum adat, Zhezee Galuh menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memiliki niat untuk menghina ataupun merendahkan adat dan budaya Dayak.

“Saya minta maaf, minta rela, minta ridho dunia akhirat,” ucap Zhezee.

Dalam penjelasannya, Zhezee menyebut persoalan bermula dari ulasan terhadap produk Bika Ambon yang kemudian berkembang setelah muncul komentar-komentar warganet bernuansa sentimen terhadap kelompok tertentu. Menurutnya, situasi semakin memanas ketika muncul unggahan lanjutan yang berisi tanggapan terhadap review tersebut.

Ia mengaku beberapa unggahan yang beredar memuat kata-kata yang dianggap kasar dan memicu aksi saling serang di media sosial.

“Akhirnya saling serang menyerang,” ujarnya.

Zhezee juga mengungkapkan bahwa dirinya menjadi sasaran perundungan di media sosial dengan berbagai sebutan yang menyinggung kondisi pribadinya. Namun ia membantah tudingan yang menyebut dirinya membawa isu kesukuan dalam persoalan tersebut.

“Saya berani pastikan, bisa cek ke postingan ulun, tidak pernah membawa suku Banjar atau Dayak,” tegasnya.

Sementara itu, Damang Pahandut William SE menekankan pentingnya menghentikan berbagai unggahan yang berpotensi memperkeruh keadaan. Ia meminta seluruh pihak menghapus konten-konten yang dapat memicu konflik lanjutan di tengah masyarakat.

William mengingatkan bahwa masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya yang berada di wilayah Kedamangan Pahandut Kota Palangka Raya, harus tetap menjunjung tinggi nilai Belom Bahadat sebagai pedoman hidup yang mengedepankan tata krama, penghormatan terhadap sesama, serta penyelesaian persoalan secara bijaksana.

Melalui forum tersebut, lembaga adat berharap polemik yang sempat memanas di ruang digital dapat diselesaikan secara damai dan menjadi pembelajaran bersama tentang pentingnya menjaga etika dalam bermedia sosial.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *