PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah belum sepenuhnya mereda. Hingga evaluasi terbaru, tercatat 2.909 kejadian karhutla dengan total luasan mencapai 9.440,36 hektare yang telah ditangani Satgas Karhutla.
Angka tersebut menjadi perhatian dalam Rapat Evaluasi Penanggulangan Karhutla yang dipimpin Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Pos Lapangan Karhutla Jekan Raya, halaman Kantor Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Jumat (11/9/2026).
Dalam rapat itu, pemerintah daerah membedah perkembangan karhutla di sejumlah wilayah. Data Posko PDB Karhutla dan analisis citra satelit Kementerian Kehutanan memang menunjukkan angka yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama menggambarkan aktivitas kebakaran yang masih tinggi.
Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot dan luasan area terbakar yang tinggi. Sementara Kota Palangka Raya tercatat sebagai wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak.
Situasi tersebut berlangsung ketika Kalimantan Tengah memasuki periode kemarau. Kondisi lahan gambut yang mudah menyimpan bara membuat penanganan tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan.
Gubernur Agustiar mengatakan tantangan semakin berat karena musim kemarau panjang yang dipengaruhi El Nino diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober bahkan awal November 2026.
“Ancaman Karhutla yang kita hadapi di Kalimantan Tengah bukanlah persoalan sederhana. Karakteristik lahan gambut, ditambah musim kemarau panjang akibat El Nino, membuat tantangan penanganan semakin berat,” ujar Agustiar.
Pemerintah Provinsi Kalteng kini mengandalkan pengerahan kekuatan lintas sektor. Sekitar 10.700 personel disiapkan untuk mendukung operasi penanganan karhutla sesuai kebutuhan di lapangan.
Dukungan udara juga diperkuat. BNPB saat ini menyediakan enam helikopter dan satu pesawat, dengan empat helikopter di antaranya digunakan untuk operasi pemadaman.
Selain pemadaman, penanganan juga diarahkan pada pendinginan dan pembasahan lahan. Di kawasan prioritas Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, operasi penanganan telah memasuki hari ke-71.
Kondisi api di kawasan tersebut dilaporkan telah berhasil dikendalikan. Namun, petugas masih melakukan pendinginan dan pembasahan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga diperpanjang hingga 19 September 2026 sebagai bagian dari upaya menekan risiko kebakaran dan membantu operasi penanganan di wilayah terdampak.
Di sisi lain, Pemprov Kalteng menggelontorkan Rp45,815 miliar dari Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk memperkuat kebutuhan penanganan karhutla.

Dana tersebut antara lain diarahkan untuk pengadaan 30 mesin pemadam, 1.500 rol selang, 50 kendaraan roda tiga pembawa air, tiga drone thermal, serta 500 alat pelindung diri.
Penanganan juga menyasar kebutuhan masyarakat yang terdampak. Sebanyak 1.100 paket bantuan telah disiapkan, sementara kebutuhan air bersih didukung melalui 87 sarana air bersih dan 237 sumur bor.
Meski berbagai sumber daya telah dikerahkan, Pemprov Kalteng masih meminta tambahan dukungan pemerintah pusat. Di antaranya dua hingga tiga helikopter water bombing, flexible tank, dan truk tangki untuk memperkuat pemadaman dari darat maupun udara.
Agustiar menegaskan penanganan karhutla tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, luas wilayah dan karakteristik kebakaran di Kalteng membutuhkan gerakan bersama dari seluruh unsur.
“Seberat apa pun tantangan, saya yakin akan mampu kita atasi selama ada semangat kebersamaan. Bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi bagaimana seluruh kekuatan dapat bergerak bersama untuk menanggulangi Karhutla demi satu tujuan, yaitu melindungi keselamatan masyarakat,” tegasnya.