PATI – Dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini masuk dalam penyelidikan polisi. Hingga Jumat (11/9/2026), jumlah penerima MBG yang mengalami gejala mencapai 401 orang.
Polresta Pati telah meminta keterangan sejumlah siswa dan pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menangani distribusi makanan tersebut.
Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadian Widya Wiratama, mengatakan pemeriksaan masih berlangsung untuk mengetahui penyebab munculnya gejala yang dialami para penerima MBG.
“Saksi dari siswa, dan SPPG yang telah kita periksa. Kita sampaikan nanti informasi yang lebih lanjut. Kita masih proses penyelidikan,” kata Dika saat ditemui di Polresta Pati, Jumat (11/9/2026).
Polisi tidak hanya mengumpulkan keterangan dari para saksi. Sampel makanan MBG yang masih tersisa serta sisa muntahan dari sejumlah siswa juga telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
“Kita juga sudah ambil sampel makanan dan sisa muntahan dari para siswa untuk dilakukan uji labfor,” ujarnya.
Hingga kini, polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut. Dika menyebut proses penyelidikan masih berjalan dan hasil pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu bagian penting dalam mengungkap penyebab kejadian.
“Kami masih melakukan penyelidikan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, menyampaikan jumlah warga yang mengalami gejala terus bertambah. Dari sebelumnya 259 orang, jumlahnya menjadi 401 orang.
Para korban berasal dari empat sekolah dan satu posyandu yang menerima makanan dari SPPG Gembong 1.
Dari total tersebut, sebanyak 48 orang menjalani perawatan di rumah sakit, sementara 319 orang menjalani rawat jalan. Sebagian lainnya disebut telah membaik setelah mendapatkan penanganan medis.
Rinciannya, 10 pasien dirawat di RSUD, 15 pasien di RS Mitra Bangsa, 20 pasien di RS KSH, dan tiga pasien di RS Fastabiq.
Kasus ini juga tidak hanya melibatkan siswa. Penerima MBG di posyandu turut mengalami gejala, termasuk balita dan ibu menyusui.
“Yang rawat inap anak usia 2 tahun ada 1 anak, selain itu ada yang rawat jalan penerima B3 (ibu-ibu menyusui),” kata Luky.
Penyebab pasti munculnya gejala pada ratusan penerima MBG tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan kepolisian.