9.767 Siswa Terpapar ISPA, Kalteng Tegaskan PJJ Bukan Libur Sekolah

PALANGKA RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap aktivitas pendidikan di Kalimantan Tengah. Berdasarkan laporan Posko Pendidikan Karhutla, sebagian besar sekolah telah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sementara sejumlah sekolah lainnya masih menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Dalam Rapat Monitoring dan Evaluasi PJJ melalui Zoom Meeting, Senin (7/9/2026), terungkap sebanyak 9.767 siswa terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk.

Data kualitas udara yang dibahas dalam rapat menunjukkan rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kalimantan Tengah pada periode 31 Agustus hingga 6 September 2026 mencapai 235. Data tersebut bersumber dari KLHK melalui ISPUnet dan IQAir.

Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan sekolah dalam menyesuaikan metode pembelajaran. Sekolah di wilayah dengan kualitas udara yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka dapat menerapkan PJJ sesuai kondisi setempat.

Kepala Balai Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan (BTIKP) Apni Ranti menyampaikan perkembangan pelaksanaan pembelajaran tersebut dalam rapat monitoring dan evaluasi.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Safrudin menegaskan bahwa perubahan metode pembelajaran tersebut tidak berarti aktivitas sekolah dihentikan.

“Ketika kita menetapkan PJJ, Bapak/Ibu guru tidak boleh menyampaikan kepada masyarakat bahwa sekolah sedang ‘libur’. Istilah libur itu salah kaprah. Sampaikanlah bahwa ini adalah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR),” tegas Safrudin.

Menurut Safrudin, PJJ diterapkan agar proses belajar tetap berlangsung ketika kondisi lingkungan tidak memungkinkan siswa mengikuti pembelajaran tatap muka secara normal.

Sekolah juga tidak harus menunggu pengajuan perpanjangan izin ke Dinas Pendidikan untuk menerapkan PJJ. Penyesuaian dapat dilakukan berdasarkan kondisi udara dan situasi di wilayah masing-masing.

Selama PJJ berlangsung, aktivitas pembelajaran tetap harus dilaksanakan dan dilaporkan melalui Kelas Digital Huma Betang. Sekolah juga diminta menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi siswa serta keterbatasan yang dihadapi di lapangan.

Keterbatasan jaringan internet, perangkat pembelajaran, pasokan listrik, kondisi geografis hingga dukungan orang tua menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan dalam pelaksanaan PJJ.

Kebijakan tersebut menempatkan kondisi kesehatan siswa sebagai salah satu pertimbangan utama dalam menentukan metode pembelajaran. Dengan kualitas udara yang memburuk dan ribuan siswa terdampak ISPA, sekolah memiliki ruang untuk menyesuaikan pembelajaran agar kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa memaksakan siswa berada di luar rumah.

“Prinsip kita jelas: pendidikan harus tetap berjalan, namun kesehatan serta keselamatan siswa dan warga sekolah adalah yang utama,” kata Safrudin.

Dengan demikian, PJJ di tengah kabut asap bukan penghentian kegiatan belajar, melainkan perubahan pola pembelajaran sementara mengikuti kondisi di masing-masing wilayah. Sekolah tetap menjalankan kegiatan akademik, sementara pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi kesehatan dan kualitas udara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *