PALANGKA RAYA – Menjelang senja, suasana di Padepokan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Palangka Raya di Jalan G. Obos X tampak berbeda dari hari biasanya. Ratusan pemuda dan pemudi mengenakan seragam hitam khas PSHT berkumpul dengan wajah penuh harap. Mereka datang bukan sekadar mengikuti seremoni, melainkan menapaki gerbang terakhir menuju status sebagai warga PSHT.
Sabtu (20/6/26) menjadi hari yang dinanti oleh 182 calon warga dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah. Untuk pertama kalinya, prosesi pengesahan dilaksanakan melalui wisuda bersama yang melibatkan Cabang Palangka Raya, Katingan, dan Gunung Mas, serta peserta titipan dari Kapuas dan Pulang Pisau.
Di balik gemerlap acara yang terbuka untuk masyarakat pada siang hingga sore hari, tersimpan sebuah prosesi yang bagi keluarga besar PSHT dianggap paling sakral. Tepat saat malam berganti hari, para calon warga akan menjalani pengukuhan khusus yang hanya diperuntukkan bagi internal organisasi.
Ketua PSHT Cabang Palangka Raya, Agustan Saining, menyebut pengesahan bukan sekadar pemberian status keanggotaan. Lebih dari itu, prosesi ini merupakan puncak perjalanan panjang yang ditempuh para siswa setelah melewati latihan bertahun-tahun, ujian fisik, pembentukan karakter, hingga pembinaan mental dan spiritual.
“Tidak semua yang berlatih bisa sampai ke tahap ini. Mereka telah melewati berbagai tahapan dan pembinaan untuk membentuk pribadi yang tangguh serta berbudi luhur,” ujarnya.
Kesakralan pengesahan semakin terasa ketika para calon warga diwajibkan menjaga sejumlah ketentuan spiritual menjelang prosesi tengah malam. Bagi peserta muslim, menjaga wudu hingga seluruh rangkaian pengukuhan selesai menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi.


Tradisi tersebut menjadi simbol kesungguhan dalam memasuki babak baru kehidupan sebagai seorang pendekar yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
Momentum bersejarah itu juga mendapat perhatian khusus dengan hadirnya salah satu pengurus pusat PSHT dari Madiun, Jawa Timur, Mas Henry Sugeng. Kehadirannya menjadi penyemangat bagi ribuan anggota yang memadati padepokan. Pengurus dan anggota dari berbagai daerah seperti Kapuas, Pulang Pisau, Katingan, Gunung Mas hingga Lamandau turut hadir menyaksikan prosesi tersebut.
Sebagai salah satu organisasi pencak silat terbesar di Kalimantan Tengah, PSHT memiliki ribuan anggota yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Di Palangka Raya saja jumlah anggota mencapai sekitar 3.000 orang, disusul Katingan sekitar 1.000 anggota dan Gunung Mas sekitar 500 anggota.
Namun bagi PSHT, besarnya jumlah anggota bukanlah tujuan utama. Organisasi ini terus menanamkan nilai persaudaraan, pengabdian, dan pembentukan karakter kepada setiap warganya.
Menjelang pengukuhan, Agustan menitipkan pesan yang sarat makna kepada para calon warga yang akan mengucapkan sumpah setia sebagai pendekar.


“Mereka bukan hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi juga harus mampu menjadi pribadi yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Itulah makna yang sesungguhnya dari seorang warga PSHT,” tuturnya.
Malam itu, ketika jarum jam bergerak menuju tengah malam, ratusan calon warga bersiap menapaki satu langkah penting dalam hidup mereka. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menguji kekuatan raga, tetapi juga kesetiaan terhadap nilai-nilai luhur yang akan mereka emban sepanjang hayat.(Red/Poto:Hairul)