PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Palangka Raya terus menunjukkan tren peningkatan selama musim kemarau. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, hingga 17 Juli 2026 tercatat sebanyak 26 kejadian Karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 11,5 hektare.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, mengatakan titik-titik kebakaran paling banyak terjadi di Kecamatan Jekan Raya, yang menjadi wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi. Sementara itu, Kecamatan Pahandut menjadi daerah berikutnya yang juga cukup sering mengalami kebakaran lahan.
Menurut Budi, sebagian besar kebakaran terjadi di lahan milik masyarakat. Proses pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan akses terhadap sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi kebakaran sehingga menyulitkan petugas dalam mengendalikan api.
Untuk mempercepat penanganan, BPBD Kota Palangka Raya terus memperkuat koordinasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, TNI, Polri, Manggala Agni, serta berbagai instansi dan relawan yang terlibat dalam penanggulangan Karhutla.
Selain mengerahkan tim pemadam melalui jalur darat, upaya pemadaman juga didukung dengan operasi water bombing guna menjangkau titik-titik api yang berada di kawasan sulit diakses kendaraan maupun personel darat.
Budi menjelaskan, luas lahan terbakar sebesar 11,5 hektare tersebut merupakan akumulasi kejadian sejak Status Siaga Darurat Karhutla di Kota Palangka Raya mulai diberlakukan pada 1 Juni 2026. Kondisi cuaca yang cenderung kering membuat potensi munculnya titik api masih cukup tinggi sehingga diperlukan kewaspadaan bersama.
BPBD mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin sebelum api meluas.
BPBD menegaskan bahwa pengendalian Karhutla memerlukan dukungan seluruh elemen masyarakat. Sinergi antara pemerintah, aparat, dunia usaha, relawan, dan warga dinilai menjadi faktor penting dalam menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangka Raya selama musim kemarau.