ChatGPT Image Jul 26, 2026, 09_05_05 AM

Palangka Raya – Popularitas olahraga padel mulai menunjukkan peningkatan di Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Palangka Raya. Olahraga raket yang menggabungkan unsur tenis dan squash ini semakin dikenal masyarakat karena menawarkan permainan yang dinamis, mudah dipelajari, serta mengedepankan interaksi sosial melalui sistem permainan berpasangan.

Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Kalimantan Tengah, Budi Yantoro, menilai kemunculan padel menjadi fenomena baru dalam dunia olahraga daerah. Meski demikian, ia menegaskan bahwa olahraga tersebut tidak bisa dimainkan secara maksimal tanpa keterampilan dasar dan fasilitas yang memadai.

“Ini bisa dikatakan olahraga baru. Tidak semua orang bisa langsung bermain karena tetap membutuhkan teknik dan keahlian tertentu,” kata Budi di Palangka Raya, Jumat (24/7/2026).

Selain menjabat sebagai pengurus KONI Kalteng, Budi juga merupakan Wakil Ketua Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PELTI) Kota Palangka Raya. Menurutnya, perkembangan padel saat ini masih didominasi kalangan tertentu sehingga lebih identik sebagai bagian dari gaya hidup.

Ia menilai akses terhadap olahraga tersebut masih terbatas karena membutuhkan lapangan khusus, peralatan yang relatif mahal, hingga biaya pelatihan yang tidak murah. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat yang ingin menjadikan padel sebagai aktivitas olahraga rutin.

“Lapangan memang bisa disewa, raket juga tersedia untuk disewa, tetapi tetap ada biaya lain seperti pelatih. Bagi sebagian masyarakat, hal itu tentu menjadi pertimbangan,” ujarnya.

Meski demikian, Budi optimistis padel memiliki peluang berkembang menjadi cabang olahraga prestasi di Kalimantan Tengah. Menurutnya, sejumlah daerah di Indonesia telah lebih dulu mengembangkan kompetisi padel sehingga pembinaan atlet mulai berjalan.

Ia menjelaskan, untuk menjadi cabang olahraga prestasi, padel harus memiliki organisasi resmi yang terdaftar sebagai anggota KONI, lengkap dengan kepengurusan serta perangkat organisasi sesuai ketentuan.

“Kompetisi yang berkelanjutan menjadi salah satu syarat penting untuk melahirkan atlet. Selain itu harus ada organisasi resmi, kepengurusan, serta AD/ART agar pembinaan bisa dilakukan secara berjenjang,” jelasnya.

Budi menambahkan, pengembangan padel di Kalimantan Tengah juga memerlukan dukungan sarana olahraga yang memadai, termasuk pembangunan lapangan berstandar dan hadirnya sekolah atau pusat pelatihan padel dengan biaya yang lebih terjangkau.

Menurutnya, selama belum memiliki organisasi resmi dan belum menjadi anggota KONI, padel masih dikategorikan sebagai olahraga rekreasi atau olahraga kreasi. Karena itu, pembentukan wadah organisasi menjadi langkah awal yang diperlukan untuk membuka jalan menuju pembinaan atlet dan penyelenggaraan kompetisi secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *