IMG_7627.HEIC

Palangka Raya – Bagi sebagian orang, bandara hanya menjadi tempat pesawat lepas landas dan mendarat. Namun, bagi seorang wisatawan atau tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di suatu daerah, bandara adalah wajah pertama yang akan membentuk kesan tentang daerah tersebut.

Pandangan itulah yang disampaikan Founder Media Warta Kalteng, Nanda Achmad, Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya memiliki potensi besar untuk menjadi etalase budaya, sejarah, dan pariwisata Kalimantan Tengah.

Menurutnya, terminal yang kini lebih besar dan modern perlu diimbangi dengan sentuhan identitas lokal yang kuat agar setiap penumpang langsung merasakan nuansa Kalimantan Tengah sejak pertama kali tiba.

“Bandara Tjilik Riwut membawa nama seorang pahlawan besar Kalimantan Tengah. Sudah seharusnya setiap orang yang datang disambut dengan story board yang menceritakan sejarah Kalimantan Tengah dan perjalanan hidup Tjilik Riwut. Jadi, mereka tidak hanya datang, tetapi juga mengenal daerah yang mereka kunjungi,” ujarnya Minggu 14/6/26.

Ia menilai masih banyak ruang yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan ornamen khas daerah. Salah satunya adalah ikon orang utan yang dapat diwujudkan dalam bentuk patung, instalasi seni, maupun galeri foto sebagai daya tarik visual bagi penumpang.

Menurutnya, orang utan merupakan simbol yang sangat melekat dengan Kalimantan Tengah, terlebih keberadaan Taman Nasional Tanjung Puting yang telah dikenal luas sebagai destinasi wisata kelas dunia.

“Ketika wisatawan tiba di Palangka Raya, mereka harus langsung mendapatkan kesan bahwa Kalimantan Tengah memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Ornamen orang utan, rumah betang, hingga seni Dayak bisa menjadi identitas yang membedakan Bandara Tjilik Riwut dengan bandara lain di Indonesia,” katanya.

Tak hanya dari sisi estetika, Nanda juga melihat peluang pengembangan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sejumlah ruang kosong di area bandara sebagai pusat UMKM. Produk kerajinan, kuliner khas, hingga cenderamata lokal dinilai dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku ekonomi kreatif.

Beberapa waktu lalu, dirinya juga berkesempatan berdiskusi dengan General Manager Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan. Dalam perbincangan tersebut, berbagai ide mengenai penguatan identitas bandara dan pengembangan fasilitas turut dibahas.

Ia mengapresiasi sejumlah perubahan yang telah dilakukan oleh pihak pengelola, namun pengembangan bandara tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah.

“Pengelola bandara sudah melakukan banyak pembenahan, tetapi untuk menghadirkan bandara yang benar-benar menjadi ikon Kalimantan Tengah diperlukan kolaborasi. Pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas seni, dan pengelola bandara harus bersama-sama membangun wajah gerbang utama Kalteng agar semakin menarik dan berkesan bagi setiap tamu yang datang,” tutupnya.

Dengan konsep tersebut, Bandara Tjilik Riwut diharapkan tidak hanya menjadi pusat transportasi udara, tetapi juga ruang yang mampu memperkenalkan sejarah, budaya, pariwisata, dan potensi ekonomi Kalimantan Tengah kepada setiap orang yang menginjakkan kaki di Bumi Tambun Bungai.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *