NIF_6172

Palangka Raya – Upacara Hardiknas 2026 di Kalimantan Tengah kali ini terasa berbeda. Bukan hanya soal barisan rapi dan pidato seremonial, tapi ada benang merah yang ditarik lebih jauh pendidikan, lingkungan, dan otonomi daerah diposisikan dalam satu tarikan napas.

Di hadapan jajaran pemerintah daerah dan tamu pusat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menyampaikan pesan yang cukup lugas: pendidikan tidak lagi cukup hanya bicara nilai dan kurikulum. Arahnya harus berani berubah.

“Pendidikan itu proses memanusiakan manusia,” katanya. Kalimat yang terdengar klasik, tapi kali ini diberi konteks baru—harus relevan dengan dunia yang sedang berubah cepat.

Transformasi itu mulai terlihat dari dua sisi. Di satu sisi, pemerintah mendorong revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran yang sudah menjangkau puluhan ribu satuan pendidikan. Di sisi lain, ada dorongan agar pendidikan tidak terputus dari realitas global, terutama soal krisis lingkungan.

Isu perubahan iklim, degradasi alam, hingga krisis sumber daya tidak lagi dianggap materi tambahan. Justru sebaliknya harus masuk ke ruang kelas, jadi bagian dari cara berpikir generasi muda.

Tema Hari Bumi tahun ini, “Kekuatan Kita, Planet Kita”, bukan sekadar slogan. Ada tekanan bahwa sekolah harus jadi titik awal perubahan: dari kebiasaan sederhana seperti pengelolaan sampah, penghematan energi, sampai penghijauan lingkungan.

Di titik ini, posisi Kalimantan Tengah jadi menarik. Bukan hanya sebagai daerah berkembang, tapi juga wilayah dengan peran ekologis penting. Artinya, pendidikan di sini tidak bisa dilepaskan dari konteks alamnya.

Sementara itu, momentum Hari Otonomi Daerah ikut mengingatkan satu hal penting: pusat tidak bisa bekerja sendiri. Arah kebijakan boleh datang dari atas, tapi implementasinya sangat bergantung pada daerah.

Pesan yang muncul cukup jelas kalau daerah bergerak cepat, pusat akan mengikuti.

Di tengah rangkaian kegiatan, simbol-simbol tetap ada: penyerahan bantuan pendidikan, pertukaran plakat, hingga kehadiran para pejabat. Tapi di balik itu, arah yang ingin ditegaskan lebih besar dari sekadar seremoni.

Kalteng sedang didorong untuk tidak hanya mengejar kemajuan pendidikan, tapi juga membentuk generasi yang paham bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka pelajari, tapi juga bagaimana mereka menjaga tempat hidupnya.(red/poto:Hairul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *