IMG-20260501-WA0087

Palangka Raya – Peringatan 2026 Hari Buruh Internasional di Kalimantan Tengah berlangsung tanpa riuh demonstrasi. Serikat pekerja justru menggeser pola perjuangan dengan menitikberatkan pada dialog dan kegiatan sosial yang dinilai lebih berdampak langsung bagi masyarakat.

Koordinator Forum Silaturahmi Serikat Pekerja dan Buruh Kalteng, Adhie, menyebut perubahan ini bukan tanpa alasan. Ia melihat adanya ruang komunikasi yang lebih terbuka dari pemerintah daerah, sehingga pendekatan konfrontatif tidak lagi menjadi pilihan utama.

“Sekarang kami melihat ada ruang dialog yang lebih baik. Pemerintah cukup terbuka menerima masukan dan kritik, jadi kami memilih cara yang lebih konstruktif,” ujarnya.

Menurutnya, jalur diplomasi kini dianggap lebih efektif untuk mengawal isu ketenagakerjaan. Dalam waktu dekat, forum buruh bahkan dijadwalkan bertemu langsung dengan gubernur guna membahas sejumlah persoalan strategis.

“Kami ingin duduk bersama, menyampaikan persoalan secara langsung, dan mencari solusi yang bisa diterima semua pihak,” tambahnya.

Di sisi lain, peringatan May Day tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan sosial, mulai dari senam bersama, donor darah hingga layanan pengobatan gratis. Bantuan juga disalurkan kepada kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, petugas kebersihan, serta buruh yang membutuhkan.

“Bantuan ini bentuk kepedulian kami. Buruh tidak hanya menuntut, tapi juga ingin hadir dan berbagi dengan masyarakat,” katanya.

Meski pendekatan berubah, isu klasik seperti pengupahan tetap menjadi perhatian. Dengan UMP Kalteng yang masih berada di kisaran Rp3,6 juta, harapan kenaikan hingga minimal Rp4 juta mulai mengemuka, seiring adanya sinyal komitmen dari pemerintah.

“Memang belum ideal, tapi ada progres. Ini menjadi harapan bagi kami ke depan,” ucapnya.

Namun, buruh juga menyoroti potensi beban lain yang bisa menggerus kenaikan upah, seperti iuran BPJS dan lonjakan biaya hidup. Karena itu, mereka mendorong Dewan Pengupahan agar mampu merumuskan kebijakan yang seimbang.

“Kenaikan upah harus terasa manfaatnya, jangan sampai habis untuk beban lain. Itu yang kami harapkan dari kebijakan ke depan,” pungkasnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *