WhatsApp Image 2026-07-30 at 13.48.50

PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), H. Agustiar Sabran, memanggil General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Kalselteng, Iwan Soelistijino, untuk memberikan penjelasan terkait pemadaman listrik bergilir yang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah. Pertemuan yang dikemas dalam konferensi pers tersebut berlangsung di Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Kamis (30/7/26).

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk respons Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terhadap keluhan masyarakat sekaligus memastikan adanya kepastian dan peta jalan (roadmap) pemulihan sistem kelistrikan yang terdampak gangguan teknis pada sejumlah pembangkit listrik di Kalimantan.

Gubernur Agustiar Sabran menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam dan terus mengawal percepatan pemulihan pasokan listrik agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.

“Kegaduhan masyarakat Kalimantan Tengah adalah kegaduhan kami. Ketidaknyamanan masyarakat juga menjadi ketidaknyamanan kami. Karena itu saya memanggil langsung pihak PLN untuk memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat,” ucap Agustiar Sabran.

Dalam kesempatan tersebut, General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijino, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan atas terganggunya pasokan listrik yang berdampak pada aktivitas warga.

Ia menjelaskan, krisis pasokan listrik pada sistem interkoneksi Kalimantan disebabkan oleh gangguan pada tiga pembangkit utama yang terjadi sejak pekan ketiga Juli 2026. Gangguan tersebut meliputi kerusakan generator di PLTU Asam-Asam pada 23 Juli, kebocoran pipa boiler di PLTU PT SKS Listrik Kalimantan, Kabupaten Gunung Mas, pada 22 Juli, serta gangguan sistem pelumasan turbin di PLTU PT Tanjung Power Indonesia (TPI), Tabalong, pada 24 Juli.

Meski demikian, PLN menyampaikan bahwa proses pemulihan terus menunjukkan perkembangan positif. PLTU TPI Tabalong berkapasitas 100 megawatt telah kembali beroperasi sejak 28 Juli 2026, lebih cepat dua hari dari target semula. Beroperasinya pembangkit tersebut berhasil mengurangi durasi pemadaman bergilir dari rata-rata enam jam menjadi sekitar tiga jam per hari.

PLN juga menargetkan pemulihan PLTU PT SKS Listrik Kalimantan berkapasitas 100 megawatt di Kabupaten Gunung Mas selesai pada 5 Agustus 2026. Apabila target tersebut tercapai, sistem kelistrikan di Kalimantan diproyeksikan kembali normal tanpa pemadaman bergilir, meski masih berada dalam kondisi siaga karena cadangan daya yang terbatas.

“Dengan demikian kondisi kelistrikan tidak ada lagi pemadaman, tetapi masih dalam kondisi siaga dengan cadangan daya yang masih terbatas,” ungkapnya Iwan Soelistijino.

Sementara itu, pemulihan penuh sistem interkoneksi Kalimantan dengan cadangan daya yang memadai bergantung pada selesainya perbaikan PLTU Asam-Asam. PLN menargetkan pembangkit tersebut kembali beroperasi dan terhubung ke sistem interkoneksi pada 25 Agustus 2026.

PLN memastikan seluruh personel dan sumber daya telah dikerahkan untuk mempercepat penyelesaian perbaikan di seluruh pembangkit yang mengalami gangguan. Perusahaan juga berkomitmen memberikan informasi perkembangan pemulihan secara berkala kepada masyarakat hingga kondisi kelistrikan kembali normal sepenuhnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *