Kabut Asap Tak Hentikan Belajar, Kalteng Pantau Sekolah Lewat Kelas Digital Huma Betang

PALANGKA RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat sejumlah sekolah di Kalimantan Tengah harus menyesuaikan pola pembelajaran. Di tengah kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah memanfaatkan teknologi untuk menjaga kegiatan belajar tetap berlangsung dari jarak jauh.

Salah satu yang digunakan adalah Kelas Digital Huma Betang, yang terintegrasi dengan pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Selain menjadi sarana pembelajaran, sistem tersebut juga digunakan untuk memantau kondisi sekolah di tengah situasi karhutla.

Pemanfaatan sistem digital itu ditunjukkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo saat memantau pelaksanaan PJJ dari Media Center Posko Karhutla di halaman Rumah Jabatan Gubernur, Istana Isen Mulang, Selasa (8/9/2026).

Dari lokasi tersebut, Reza berkomunikasi secara langsung dengan guru dan murid melalui Kelas Digital Huma Betang dan Zoom Meeting. Interaksi tersebut memungkinkan Dinas Pendidikan melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung selama PJJ.

Sekolah juga dapat menyampaikan kondisi yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari kendala jaringan internet hingga perkembangan kualitas udara di wilayah masing-masing.

“Ada proses belajar, fasilitas yang diberikan oleh pemerintah lewat Dinas Pendidikan, ada kelas virtual,” ujar Reza saat berdialog dengan murid.

Penggunaan platform digital tersebut membuat komunikasi antara sekolah dan Dinas Pendidikan tetap berlangsung meski pembelajaran tatap muka di sejumlah wilayah harus dibatasi akibat kondisi udara.

Informasi dari sekolah menjadi penting karena kondisi setiap wilayah tidak selalu sama. Ada sekolah yang dapat menjalankan pembelajaran secara daring, sementara sekolah lainnya harus menyesuaikan metode karena persoalan jaringan, perangkat maupun kondisi lingkungan.

Kelas Digital Huma Betang kemudian tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertemuan virtual antara guru dan murid. Dalam situasi karhutla, platform tersebut juga menjadi bagian dari sistem komunikasi dan pemantauan pendidikan daerah.

Melalui mekanisme tersebut, proses belajar dapat terus berjalan tanpa mengharuskan siswa berada di lingkungan sekolah ketika kualitas udara tidak memungkinkan.

Bagi Dinas Pendidikan Kalteng, kondisi karhutla sekaligus menjadi momentum untuk menguji kesiapan pembelajaran digital. Persoalannya bukan hanya memindahkan kegiatan belajar dari ruang kelas ke ruang virtual, tetapi memastikan guru dan siswa tetap dapat berkomunikasi serta sekolah tetap terhubung dengan pemerintah daerah.

Reza mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut merupakan bagian dari penyesuaian sistem pendidikan terhadap kondisi yang membutuhkan fleksibilitas.

Dengan Kelas Digital Huma Betang, pembelajaran tetap dapat dilakukan dari rumah, sementara informasi mengenai kondisi sekolah dan kendala yang dihadapi dapat disampaikan secara langsung kepada Dinas Pendidikan.

Model tersebut menjadi salah satu cara Kalteng menjaga aktivitas pendidikan tetap berjalan ketika kabut asap membuat pembelajaran tatap muka harus menyesuaikan kondisi di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *