774746183_1582326816592960_1696803329314313121_n

PALANGKA RAYA – Ketika sebagian besar warga bersiap menyambut datangnya 17 Agustus, suasana berbeda terasa di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sanaman Lampang, Palangka Raya.

Jarum jam mendekati tengah malam. Tepat pukul 23.50 WIB, Minggu (16/8/2026), Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan sejumlah pejabat berkumpul dalam Ziarah Nasional dan Renungan Suci memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Kalteng.

Tidak ada panggung hiburan atau sorak-sorai. Hanya suasana hening dan rangkaian penghormatan kepada mereka yang telah gugur dalam perjuangan membela tanah air.

Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sementara Gubernur Agustiar Sabran, Wakil Gubernur Edy Pratowo, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin, pejabat TNI-Polri, Kejaksaan, pimpinan perangkat daerah dan instansi vertikal hadir mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Ziarah dan Renungan Suci tersebut menjadi tradisi yang digelar setiap tahun menjelang peringatan Hari Kemerdekaan. Di tempat itu, nama dan perjuangan para pahlawan kembali dikenang, jauh dari hiruk-pikuk perayaan yang biasanya memenuhi ruang publik saat 17 Agustus.

Bagi Agustiar, mengenang para pahlawan tidak cukup hanya dengan datang ke makam setiap tahun. Penghormatan tersebut harus diteruskan dalam bentuk tindakan sehari-hari.

“Jasa dan pengorbanan para pahlawan menjadi teladan bagi kita untuk menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, dan mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur Agustiar.

Menurutnya, perjuangan generasi terdahulu telah melahirkan sebuah kemerdekaan yang kini dinikmati generasi berikutnya. Karena itu, tantangan generasi saat ini bukan lagi mengangkat senjata di medan perang, melainkan menjaga persatuan dan memastikan kemerdekaan menghasilkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan falsafah Huma Betang yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah.

“Falsafah Huma Betang mengajarkan kita untuk hidup rukun dalam keberagaman, saling menghormati dan bergotong royong. Nilai-nilai ini harus terus kita jaga dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai landasan dalam membangun Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Di bawah suasana malam yang sunyi, pesan itu terasa berbeda. Kemerdekaan yang biasanya dirayakan dengan lomba, panggung hiburan dan berbagai kegiatan rakyat, malam itu dimaknai dengan cara yang lebih tenang.

Ziarah Nasional menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan peringatan kemerdekaan terdapat sejarah panjang dan pengorbanan yang tidak ringan.

Para peserta kemudian meninggalkan TMP Sanaman Lampang setelah rangkaian Renungan Suci selesai. Namun, suasana hening yang berlangsung menjelang tengah malam tersebut menyisakan satu pesan: kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan.

Kini, tugas generasi yang hidup di dalamnya adalah menjaga apa yang telah diwariskan para pahlawan—persatuan, kebersamaan dan semangat untuk membangun negeri.

Dari TMP Sanaman Lampang, beberapa jam sebelum Sang Merah Putih kembali dikibarkan, Kalteng mengawali peringatan kemerdekaan dengan menundukkan kepala dan mengingat mereka yang telah lebih dahulu berjuang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *