Pulang Pisau – Di bawah terik matahari yang tertutup kabut asap, beberapa petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tampak terus menyisir area yang telah menghitam akibat kobaran api. Dengan selang air di tangan dan perlengkapan sederhana, mereka berupaya memadamkan bara yang masih tersisa agar tidak kembali menyala.
Pemandangan tersebut menggambarkan perjuangan para petugas di lapangan yang harus bekerja dalam kondisi penuh risiko. Asap pekat membatasi jarak pandang, sementara panas dari lahan yang terbakar masih terasa di sejumlah titik. Meski demikian, mereka tetap bertahan hingga proses pendinginan selesai.
Setiap langkah yang diambil petugas dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Mereka menyemprotkan air ke bagian-bagian lahan yang masih mengeluarkan asap, memastikan tidak ada bara api yang dapat memicu kebakaran kembali. Di tengah medan yang dipenuhi ranting hangus dan semak belukar, koordinasi antarpersonel menjadi kunci agar upaya pemadaman berjalan efektif.
Perjuangan tersebut menjadi potret nyata dedikasi para petugas pemadam Karhutla yang setiap hari berada di garis depan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Tugas mereka bukan hanya memadamkan api, tetapi juga menjaga kualitas udara, melindungi ekosistem, serta mengurangi risiko kabut asap yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
Di balik kepulan asap yang menyelimuti hutan, tersimpan pengorbanan yang sering luput dari perhatian. Saat sebagian masyarakat beraktivitas seperti biasa, para petugas memilih berada di tengah kepungan asap demi memastikan api benar-benar padam dan tidak meluas.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan Karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas di lapangan. Partisipasi masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, segera melaporkan titik api, serta menjaga kelestarian lingkungan menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di masa mendatang.(red)