WhatsApp Image 2026-07-29 at 13.38.56

PALANGKA RAYA – Aksi unjuk rasa yang digelar puluhan peternak ayam yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Kalimantan Tengah di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Jalan Ahmad Yani, Rabu (29/7/2026), berlangsung ricuh. Massa melempar ayam busuk ke halaman kantor sebagai bentuk protes setelah hingga hari kedua aksi mereka mengaku belum mendapat kesempatan bertemu dengan General Manager PLN.

Aksi tersebut dipicu keluhan para peternak terhadap pemadaman listrik yang dinilai berulang kali terjadi dan berdampak langsung pada usaha peternakan ayam. Menurut mereka, gangguan pasokan listrik menyebabkan kematian ayam dalam jumlah besar, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.

Ketua Pinsar Kalimantan Tengah, Andi Bustan, mengatakan sebagian besar peternakan ayam modern di daerah tersebut menggunakan sistem kandang tertutup (close house) yang seluruh operasionalnya bergantung pada pasokan listrik.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, peternak bisa kolaps. Harga ayam sudah jatuh, sekarang ditambah sering mati lampu. Ayam yang dipelihara selama 40 hari justru mati menjelang panen,” ujar Andi.

Ia menjelaskan sekitar 90 persen kandang ayam di Kalimantan Tengah merupakan kandang close house. Dalam sistem tersebut, listrik berperan penting untuk mengoperasikan ventilasi, pendingin, serta peralatan pendukung lainnya. Menurutnya, pemadaman listrik selama beberapa menit saja berpotensi menyebabkan kematian ribuan ayam akibat terhentinya sistem sirkulasi udara.

Andi memperkirakan satu kandang dengan kapasitas sekitar 40 ribu ekor ayam dapat mengalami kerugian hingga Rp360 juta apabila terjadi kematian massal. Jika gangguan listrik terjadi di banyak lokasi peternakan, total kerugian disebut dapat mencapai miliaran rupiah.

Selain kerugian yang dialami peternak, Andi menilai gangguan listrik juga berpotensi memengaruhi ketersediaan pasokan ayam di pasaran. Menurutnya, penurunan produksi dapat berdampak pada kenaikan harga ayam bagi masyarakat.

Ia menambahkan, industri perunggasan di Kalimantan Tengah melibatkan sedikitnya 12 perusahaan besar dengan sekitar 3.000 hingga 4.000 tenaga kerja. Dampak pemadaman listrik, kata dia, dirasakan di sejumlah daerah, di antaranya Kota Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Kabupaten Kotawaringin Timur.

Meski sebagian besar peternakan telah dilengkapi generator set (genset), Andi menilai penggunaan genset bukan solusi jangka panjang. Selain membutuhkan biaya operasional tinggi, pasokan bahan bakar juga menjadi kendala karena banyak lokasi peternakan berada jauh dari stasiun pengisian bahan bakar.

Pinsar Kalimantan Tengah meminta PLN melakukan pemetaan kawasan peternakan agar pemadaman listrik dapat diminimalkan atau menyiapkan langkah mitigasi lain saat terjadi gangguan pasokan listrik. Organisasi tersebut juga menyatakan akan mempertimbangkan langkah hukum apabila tidak ada solusi konkret terhadap persoalan yang mereka sampaikan.

“Kami memahami pemadaman kadang tidak bisa dihindari. Namun harus ada solusi. Jangan sampai peternak terus menanggung kerugian akibat persoalan yang sama,” tegas Andi.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *