PALANGKA RAYA – Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Lohing Simon, menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan Huma Betang yang ditandai dengan peletakan tiang perdana oleh Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, di kawasan eks Kantor Dinas Kehutanan Kalteng, Jalan Jenderal Sudirman, Palangka Raya.
Menurut Lohing, pembangunan Huma Betang merupakan langkah strategis dalam memperkuat identitas budaya Dayak sekaligus menghadirkan ikon baru bagi Kalimantan Tengah. Ia berharap bangunan tersebut nantinya dapat menjadi Huma Betang terbesar di dunia dan berfungsi sebagai pusat pelestarian adat, budaya, serta edukasi bagi masyarakat.
“Ini merupakan momen yang sangat baik. Bapak Gubernur telah meletakkan tiang perdana pembangunan Huma Betang yang luar biasa. Harapannya, Huma Betang ini menjadi yang terbesar di dunia,” ujar Lohing.
Ia menjelaskan, pembangunan Huma Betang bukanlah program yang muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, rencana tersebut telah dibahas sejak sekitar dua tahun lalu bersama Komisi IV DPRD Kalteng, khususnya dalam pembahasan sektor infrastruktur dan bidang Cipta Karya.
“Perencanaannya sudah kami bahas sejak dua tahun yang lalu di Komisi IV. Hari ini bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah memasuki tahap implementasi pembangunan fisik,” katanya.
Sebagai mitra kerja pemerintah daerah di bidang infrastruktur, Komisi IV DPRD Kalteng, lanjut Lohing, berkomitmen mengawal pelaksanaan pembangunan agar berjalan sesuai perencanaan, baik dari sisi kualitas pekerjaan maupun tahapan penganggaran.
Ia menyebutkan pembangunan Huma Betang akan dilaksanakan secara bertahap menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Untuk itu, pembahasan anggaran lanjutan direncanakan masuk dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2027.
“Untuk kelanjutan pembangunan Huma Betang, tentu akan dibahas dalam penyusunan anggaran tahun 2027. Kami akan mengawal agar proses pembangunan dapat berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan,” ujarnya.
Selain persoalan anggaran, Lohing juga menyoroti penggunaan kayu ulin sebagai material utama pembangunan. Menurutnya, penggunaan kayu ulin merupakan bagian dari karakteristik Huma Betang yang mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Dayak dan patut dipertahankan.
“Namanya Huma Betang, sejak dahulu tiang-tiang utamanya menggunakan kayu ulin. Begitu juga rangka penguat bangunannya. Itu merupakan ciri khas Huma Betang,” jelasnya.
Lohing optimistis kebutuhan kayu ulin untuk pembangunan tersebut masih dapat dipenuhi sehingga tidak menjadi hambatan dalam pelaksanaan proyek.
Ia berharap pembangunan Huma Betang dapat berjalan sesuai rencana dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah, sekaligus destinasi budaya yang mampu memperkuat pelestarian kearifan lokal dan menarik minat wisatawan.
“Dengan rencana pembangunan Huma Betang ini, saya melihat kebutuhan kayu ulin masih dapat dipenuhi sehingga tidak menjadi kendala bagi pelaksanaan pembangunan,” pungkasnya.